TAKBIR SETENGAH MAIN DAN LEBARAN YANG TERTUNDA

Senin 28 Agustus 2011, jam 5 sore saya berada di Plaza Indonesia. Seorang teman koresponden saya dari Libya ingin bertemu. Dan saya menunjuk Patisserie Francois sebagai titik temu. Teman saya ini sedang menghindari situasi politik yang sedang pada titik didih  di negerinya.  Ternyata masih saja ada orang di dunia yang beranggapan kita sebagai bagian di balik belahan dunia yang terasing dan mungkin masih tertinggal. Kami berjumpa darat untuk pertama kali. Saya mengidentifikasi diri melalui SMS dan dia mengatakan bahwa dia  sedang mencari lokasi. Tak sangka Indonesia semaju ini, katanya. Walau saya tahu Libya dengan sumber minyak yang luar biasa, saya tidak kalah  mengatakan bahwa Indonesia memiliki  segalanya. Saya bilang pada teman-teman manca negera yang sempat saya jumpai sering saya katakan my country has everything but we miss so many things. Mau bilang apa. Yang seharusnya ada malah kita tidak miliki. Punya laut kita juga impor garam. Punya sawah kita impor beras. Punya lahan dan bisa tanam setekan singkong, kita impor gaplek.  Miliki laut paling luas, kita juga diam-diam terima ikan dari negeri seberang.

Negeri ini negeri kontroversi. Banyak hal terjadi selalu tidak sebagaimana mestinya. Hal yang seharus mudah kita susahkan dengan berbagai kerumitan peraturan. Kontroversi juga telah membuat sejumlah keceriahan bertakbir berjalan setengah main.   Sudah kebiasaan bertetangga baik, rumah kami jadi tempat singgahan ketupat dan opor ayam serta rendang sedap dari sahabat  di muka, belakang dan kiri kanan.  Kiriman ketupat dan opor telah sampai. Isteri saya juga berbalas pantun dengan mengirim sedikit bauh anggur dalam kantung ke beberapa rumah sekitar. Tetapi ternyata pemerintah menentukan bahwa hari Rabu dan bukan hari Selasa sebagai hari raya.  Gema takbir di Mushola kami semakin sayu dan kemudian berhenti. Perayaan ditunda.

Senen  siang, ketika saya ke luar dari rumah, dua orang dari rumah tetangga di depan rumah menggendong ayam ras putih berukuran super  peliharaan sendiri pergi mencari juru sembelih.  Daging ayam dan kuah bebek sampai ke rumah kami Selasa Sore. Ditunggu sampai malam takbiran.

Selasa Sore 30 Agustus 2011. Dan takbiran bersahutan. Letusan mercun  tiada  henti tanda semarak hari raya. Gema Takbir menyerukan nama Allah dari Mushola terus saja meriahkan suasana.   Kalau ada yang diingat hari raya Lebaran kali ini adalah Indonesia memang bukan negara Muslim. Ini juga negara demokrasi. Karena itu kontroversi selalu mungkin. Kedamaian adalah suasana batin. Karena itu sangat tergantung dari sikap kita. Perbedaan dan kontroversi hari raya tidak akan menjadi masalah sejauh masing-masing menyikapi secara arif dan bijak. Damai selalu negeri ku.

SELAMAT BERLEBARAN.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s