SEMANGAT UBUNTU DAN TEMAN SAKIT

UBUNTU adalah judul  sebuah buku yang sedang saya baca dan  UBUNTU juga adalah  falsafah hidup orang Afrika yang melihat manusia harus berada bersama. Saling mengasihi dan saling mengampuni. Ubuntu pula yang membuat Nelson Mandela dan Desmon Tutu  mendorong masyarakat Afrika untuk melupakan kekejaman dan kepahitan selama Apartheid. Tidak menuntut balas tetapi menciptakan perdamaian.  Karena Ubuntu selalu mengedepankan kekitaan mendahului  aku, kami dan kamu. Semangat Ubuntu sederhana dan biasa saja. Itulah sikap manusia yang memang makhluk sosial. Selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Manusia memang saling membutuhkan. “Kita hanya bisa menjadi manusia lewat memanusiakan orang lain, dan bahwa jika kita hendak mengerjakan apa saja di dunia ini, itu juga harus dicapai melalui pekerjaan dan pencapaian orang lain” demikian kata Mandela.

Pagi ini seorang ibu tetangga kami di gang sebelah menelpon. Ini keluarga yang pernah harus berjaga hingga pagi ketika saya berada di rumah sakit.   Telepon kemudian diberikan kepada saya. Teman saya sakit diminta untuk dibawa ke dokter. Saya segera membasuh muka dengan lap basah, sisir rambut. Karena saya harus menelan obat, sedikit nasi dan lauk saya makan.   Semalam teman saya enam kali buang air dan sedikit muntah. Katanya disebabkan oleh karena  makan lontong berisi oncom pedas.

Tadi malam kami berkumpul di rumah teman tersebut. Ada latihan koor gereja. Kelompok kami akan mendapat giliran bertugas di gereja.  Biasa kalau ada latihan koor disediakan beberapa jenis makan kecil ditambah minum air mineral atau terkadang ada yang menyediakan teh hangat atau wedang jahe.  Teringat seorang teman  di samping saya  menyantap dua lontong dan sebuah kue. Ketika akan pulang masih mengambil satu lagi. Rencananya pagi ini dia akan melakukan terapi batu giok di samping rumah tempat kami latih koor. Pagi ini dia belum muncul. Mungkin dia juga mengalami nasib serupa kata isteri pasien. Dia merasa bersalah telah membeli lontong yang tidak higien.

Saya diminta datang menyetir mobil. Ketika saya dan isteri tiba di rumah, pasien sedang berbaring di sofa. Nampak lemas. Ketika akan berangkat, dia mengeluarkan mobil dari garasi di lorong yang sempit, sesudahnya kemudi diserahkan pada saya. Dalam kendaraan saya mencari referensi.   Kata guru saya pastor Engels svd di Mataloko, obatnya mudah. Jangan makan paling tidak selama 3 jam sesudah buang air yang terakhir. Saya juga bercerita tetang pengalaman membawa anak saya berumur hampir dua tahun  ke rumah sakit St. Carolus ketika mengalami sakit serupa. Setiap anak kami buang air kami memberinya makan. Dan dia buang air tidak henti. Malam sudah larut. Kami memutuskan untuk membawa ke rumah sakit. Kami memasuki ruang UGD. Dokter hanya berpesan jangan beri makan.  Sampai semuanya terkuras. Jangan takut selama seorang masih memiliki cairan tubuh cukup. Kami pun pulang tanpa obat.

Tidak apa, nanti dengar dari dokter saja, kata saya. Ketika di rumah sakit, upacara pertama setelah pendaftaran adalah mengukur tensi darah. Kemudian setelah menunggu lama dokter wanita berusia diatas 50 tahun datang dan memeriksa. Kata teman hanya diberikan anti muntah. Setelah itu pulang dengan sedikit resep yang harus dibayar. Teman saya cerita tadinya telinganya berdengung tetapi setelah bertemu dokter dengungan di telinga hilang. Bagi orang kota sedikit-sedikit ke dokter dan rumah sakit. Tetapi bagi orang desa di  Flores kalau sudah ke rumah sakit artinya S.O.S.  Dan saya selalu ingat suatu ketika keponakan saya Man Jogo menelpon:” Om, kami dalam perjalanan dari Nangaroro ke Ende. Mama sakit.”  Satu jam kemudian ada telepon lagi: ” Om, mama negha ka.” (Mama sudah lewat).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s