SEKAT AGAMA

Agama itu apa sih? Apa yang diajarkan oleh agama? Saya kadang-kadang bingung sendiri.  Ada yang bilang seorang yang beragama baik pasti jadi warga negara yang baik. Tetapi mengapa ada orang yang beragama memusuhi dan membenci bahkan membunuh orang lain.  Kalau setiap agama mengajarkan kasih, mengapa tidak membangun kebersamaan yang saling menghargai dan mencintai. Apakah setiap agama hanya saling menghargai antar orang seiman?

Orang komunis itu katanya tidak punya agama. Mereka juga tidak percaya pada Tuhan. Orang-orang di Nusantara ini banyak yang tidak memiliki agama. Maaf saya tidak punya pengalaman berhubungan dengan orang Rusia. Namun saya yakin bahwa rasa kemanusiaan orang Rusia atau China yang komunis sama dengan kita yang mengaku beriman pada Tuhan. Kita sama menyayangi keluarga dan anak-anak kita. Kita semua mencari rasa aman dan menikmati hubungan persahabatan dengan orang lain.  Ada rasa kasih dan juga benci tentunya. Kasih itu perasaan positif karena mempunyai nilai baik, menciptakan keharmonisan hubungan dan terciptanya suasana damai. Sebaliknya benci adalah perasaan negatif karena membangun permusuhan dan merusak kebersamaan yang harmonis. Tidak ada damai, karena yang ada hanyalah permusuhan. Permusuhan bisa menciptakan kerusuhan dan perpecahan. Walau kita punya pandangan yang sama tentang nilai-nilai tetapi kita sering lebih mengedepankan perbedaan-perbedaan yang memisahkan. Kita selalu membangun sekat antara bagi tembok pemisah.  Kita membedakan antara Protestan dan Katolik, Muslim dan Kristen atau lainnya.

Suatu saat beberapa anak masuk rumah kami. Di rumah ada saya dan isteri. Saya lalu membuka vcd lagu-lagu anak berbahasa Inggris. Niatnya biar mereka bisa belajar bahasa Inggris. Tiba-tiba seorang anak wanita datang memanggil semua anak itu keluar. Selanjutnya mereka tidak pernah datang lagi. Jauh sebelum itu ada dua anak yang berumur 3 dan 4 tahun. Mereka dengan banyak anak lain sering main di rumah kami. Lama-lama kelamaan anak-anak itu tidak pernah datang lagi ke rumah kami. Walau mereka masih berjabatan tangan dengan saya kalau lagi berjumpa di jalan. Sebahagian besar anak-anak di RT kami  biasa berjabatan tangan dengan saya bila bertemu. Walau sedang asyik bermain, anak-anak ini akan berlari ramai dan menjabat tangan saya. Kalau saya merayakan Natal anak-anak lugu itu datang mengucapkan selamat sambil mengharapkan bingkisan.

Ketika ada acara  arisan para bapak  satu RT, saya mengusulkan bagaimana kalau diadakan acara buka puasa bersama? Acaranya diadakan di tempat terbuka. Saya mengusulkan supaya orang Kristen termasuk saya  berpartisipasi. Sebahagian besar peserta arisan tidak menanggapi. Tetapi ada satu dua orang yang berkomentar bahwa hal ini sulit karena perbedaan pandangan. Saya segera memahami bahwa agama memang membatasi dan memasang rambu-rambu sosial.

Agama ternyata membentuk sekat pembatas. Saya dan golonganku  berbeda dengan engkau dan golonganmu. Saya dan kami pasti beda dengan kau dan kamu.  Agama seolah mengabaikan kekitaan. Kebersamaan dalam kekitaan berarti mengakui kebenaran yang lain. Dan karena agama menjadi sekat, maka yang ada hanya aku dan kamu yang saling berbeda. Kini aku mengerti mengapa anak-anak Muslim itu dipanggil pulang dari rumahku. Dan saya menjadi lebih paham bahwa rambu itu memang ada. Dan kebersamaan itu sulit karena berbeda pandangan seperti kata teman kelompok arisan.

Membangun kekitaan ternyata sulit karena sekat agama. Saya orang Kristen berbeda dengan kakek dan om saya yang  Islam. Masih perlukah kita beragama kalau itu hanya  membuat sekat pembatas dan memisahkan? Kasihilah sesamamu yang dijadikan bukti perwujudan iman menjadi sebuah basa-basi, sebuah gaung gema diudara hampa.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to SEKAT AGAMA

  1. Uki L says:

    good sharing!!! Saya jadi ingat dipanggil “kafir” oleh teman-teman saya pertama kali di kelas 3 SD. Saya pribadi, percaya Yahwe dan Yesus tapi tidak percaya agamah (apapun). Bahkan saya tidak percaya Tuhan menciptakan agama. . Ke-Tuhan-an adalah sesuatu yang sangat pribadi dan tidak bisa dibungkus dalam bentuk dogma atau ritual. Karena agama, Tuhan seolah-olah menjadi pemecah dan penyebar kebencian. Keep posting!!! JBU.

  2. I W. Mudita says:

    Indonesia butuh orang-orang seperti Anda, bukan mengatasnamakan agama kemudian mengatakan orang lain kafir. Salam kenal: http://iwayanmudita.blogspot.com

  3. atanagekeo says:

    Terima kasih pak Wayan telah mengunjungi blog dan meninggalkan pesan. Ada pengalaman awal saya masuk Jakarta. Seorang gadis kecil datang mendekat ke saya. Om keris ya. Saya slampe. Kristen setaraf keris identik dengan kekerasan dan kekejaman. Islam itu membawa suasana lembut seperti slampe (sapu tangan) yang melambai damai. Sekat itu telah diajarkan. Ini yang berbahaya dan membahayakan toleransi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s