PIDATO PRESIDEN YANG PALING DIINGAT

Saya bukan orang Islam tetapi ketika Buya Hamka dan Zainuddin MZ bicara di radio dan televisi  saya berusaha mendengarnya. Ada yang dipetik dan diingat. Sekarang sudah banyak ustadz televisi tetapi sejak Zainuddin wafat kita kehilangan roh pengkhotbah. Yang ada adalah kehadiran orang-orang sewaan dan pekerja proyek. Mereka tidak muncul sejuk karena yang mereka bawakan adalah diri mereka. Mereka bagaikan wanita model yang lupa diri bahwa misi mereka adalah menampilkan model busananya.

Bagaimana dengan pidato Presiden NKRI? Dalam banyak acara saya tidak pernah tertarik mendengar pidato presiden. Mungkin bukan karena substansi tetapi banyak hal yang membuat saya tidak pernah tertarik lagi mendengarkannya. Kata tidak sesuai tindakan. Semboyan katakan tidak pada korupsi, fakta berbicara begitu banyak tokoh partai Demokrat terjerat masalah. Saya lebih tertarik kalau Gus Dur berpidato. Karena Gus Dur berbicara dengan hati. Itulah kelebihan yang mengatasi keterbatasan pengelihatannya.

Mengapa pidato Presiden NKRI Pertama selalu ditunggu dan diingat? Saya masih ingat waktu itu tidak ada banyak radio di kampung-kampung. Kalau Soekarno berpidato orang berkumpul mengelilingi radio. Yang istimewa semua pidato presiden Soekarno selalu punya tema. Karena itu orang akan selalu ingat judul pidatonya. Berdikari, tahun vivere periculoso adalah kata-kata yang berasal dari pidato  seorang Presiden NKRI. Hanya pidato presiden Soekarno mungkin yang paling didengar dan diingat serta ditunggu. Masih adakah gairah orang menunggu pidato presiden SBY? Ketika Indonesia digertak Malaysia, saya tertarik ingin mendengarkan pidato SBY di Cilangkap, pentagonnya Indonesia. Tetapi seperti semua orang, saya kecewa. Kali ini saya kecewa tentang substansinya. Indonesia yang bersuara lemah. Indonesia hanya jadi pecundang, karena itu  tak heran tonggak batas mudah dipindahkan karena tak pernah kita indahkan. Makanya wajar saja  kalau ada yang ingin mengibarkan bendara negara tetangga yang lebih memberikan harapan. Tetangga sebelah lebih berani. Mereka memindahkan tonggak batas tanah kita.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s