NAZARUDDIN PUNYA ULAH PARTAI DEMOKRAT PUNYA MALU

Muhammad Nazaruddin tertangkap dan tiba di Indonesia dengan borgol di tangan. Sebuah jacket anti peluru dikenakan di badannya.  Uang negara digelontorkan sebanyak 4 milyar rupiah untuk mencharter pesawat. Ketika di tanah air, dia diperlakukan sebagai tamu khusus. Semuanya serba khusus. Tanpa borgol Nazaruddin selayaknya orang terhormat. Nazaruddin adalah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat. Dia juga seorang Bendahara Partai. Nazaruddin adalah kader partai politik yang berkuasa di negeri ini. Nila setitik rusak susu sebelanga. Presiden Republik  Indonesia  SBY yang haji dan doktor pula pasti jauh lebih ingat dan paham makna  pepatah itu. Sebagai doktor dalam ilmu tani, dia pasti tahu kehidupan kaum marginal. Mereka selalu punya bahasa bijak. Karena itu tak heran bangsa ini dihidupkan ingatannya akan pepatah “nila setitik rusak susu sebelanga,” oleh seorang doktor ilmunya kaum  petani.   Jadi setitik nila benar dipahami merusak sebelanga susu.  Cara menghindari pencemaran susu  jauhkan belanga berisi susu putih dari nila. Saya masih ingat pengerajin tenun ikat di Mauromba, Daja  dan Maundai di Nagekeo, Flores  selalu merendam daun nila dalam belanga di kolong rumah atau bahkan harus dibuat saung khusus di samping rumah. Karena nila yang direndam berbau tak sedap selain bisa membawa noda.

Nazaruddin lengkapnya Muhammad Nazaruddin, adalah seorang beriman. Dia juga anak baik. Dulunya mengaji dan sholat. Waktu itu dia putih seperti susu. Kalau orang Kristen selalu panggil nama baptis, dan orang Islam di kampung Mauromba begitu menjadi mualaf merasa bangga menggunakan nama baru yang islami.  Orang Mauromba akan panggil dia Muhammad atau Hemad. Sangat Islami dan beriman.  Orang-orang di kampung kami masih banyak yang menganut agama tradisional. Ada pohon beringin dan batu besar jadi altar kami. Sirih pinang dan kepala hewan sesembahan kami. Kami juga punya Peo sebagai tiang yang mengikat persatuan kami. Kini Kristen datang dari Barat dan kita semua sama tahu Islam juga datang dari Barat membuat orang Nagekeo mendirikan Mesjid dan Gereja sebagai ganti pohon dan batu besar. Tetapi Peo masih tetap tegak berdiri dan dihargai oleh yang Muslimin dan Kristen.  Peo memang bukan tempat menyembah berhala, tetapi dia adalah tonggak atau monumen persatuan adat.

Kalau saja SBY menyebut nila dalam kaitan dengan Muhammad Nazaruddin yang sedang bermasalah dan membuat heboh, maka Muhammad  yang anak sekolah ngaji dan  putih bagaikan susu kini tercemar dan dianggap sebagai nila pencemar.  Nazaruddin juga menjadi kader partai. Kalau partai sebagai wadah baik, maka partai ini tak beda dengan sekolah ngaji.  Nazaruddin begitu masuk partai disebut kader partai. Lebih dari sekedar murid pengajian, kader jauh lebih gagah. Kader bukan berarti murid. Kader adalah perwira atau bintara. Kader adalah orang yang disiapkan untuk tugas khusus.  Karena itu kalau seorang kader berbuat salah sanksinya juga khusus. Seorang kader tidak boleh ceroboh dan melakukan tindakan yang mencemarkan nama kesatuannya.

Kita anggap Muhammad Nazaruddin sebagai nila, lalu susu dan belanganya mana? Karena Muhammad Nazaruddin adalah kader partai Demokrat bahkan masuk dalam elit partai, maka Partai Demokrat adalah susu dan juga belanga berisi susu.  Muhammad Nazaruddin juga seorangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Di sana dia berada. Sebagai lembaga terhormat Dewan Perwakilan Rakyat adalah belanga susu bagi Nazaruddin.  Tetapi karena Nazaruddin adalah nila, hitam, mencemarkan  belanga maka Partai Demokrat dan juga Dewan Perwakilan Rakyat  turut menjadi hitam.  Nila setitik rusa susu sebelanga. Susu sebelanga Partai Demokrat berserta Ketua Dewan Pembina tentu tercemar nilanya Nazaruddin. Susu sebelanga tercemar nila harus dibuang. Susu yang tercemar harus ditumpahkan dan dibuang. Wadahnya bisa dicuci. Semoga jangan hanya malu yang dipikul, tetapi usaha membuang malu  harus diupayakan. Siapa-siapa yang membuat malu, mereka semua harus dikeluarkan dari wadahnya. Muhammad Nazaruddin tidak sendirian.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s