INSPIRASI ETOS KERJA WANITA PASAR RAJA

Hari  masih pagi. Saya dan kakak saya Mia meninggalkan Mauromba.  Jam 4 dini kami minum kopi dan menikmati nasi  dan lauk yang sengaja disisakan dari malam untuk sarapan.  Waktu terlalu pendek untuk menyiapkan sarapan.  Kendaraan akan tiba sekitar jam 4.30 pagi.  Sebuah truck kayu sudah ada banyak penumpang. Saya dan kakak segera naik duduk pada salah satu papan. Kakak saya masih menyelimuti tubuh dengan kainnya.  Sampai di Maundai  mobil truck itu membelok ke kanan dan naik sampai di salah satu ujung.  Ada seorang bapak dengan kelapa dan pisang. Untuknya sudah dipesan tempat duduk di depan. Dan dia duduk di depan di samping sopir. Pisang dan kelapa dibawa untuk anggota keluarga yang bersawah di Aeramo. Orang-orang Aeramo, Mbay yang bekerja sawah masih mendatangkan kelapa dan juga pisang dari Keo Tengah. Saat ini Keo Tengah mempunyai produk buah pisang  berkelimpahan.   Penumpang terus bertambah satu demi satu dan begitu sampai di ujung Maunori truck sudah sesak dengan penumpang dan ada yang ditinggalkan.

Ketika kami tiba di persimpangan Pasar Raja,  beberapa penumpang menuju Ende turun. Saya juga turun untuk menunggu kendaraan menuju Ende.  Kakak saya sebentar turun dia ingin mengucapkan salam perpisahan. Kakak saya kemudian naik lagi. Dia mengusap air mata dan menangis. Dan itu adalah upacara rutin  bila bertemu dan berpisah dengan kami adik-adiknya. Kakak dan saudari kami ini orang yang mudah terharu.  Ada 7 orang adiknya berada di rantau.  Dia kakak sulung kami.  Seorang wanita menjunjung baskom di kepala berdiri sedikit mendekat. Dia kelihatan sedang menghapus air mata. Dia menangis melihat ada air mata membasahi pipi kakak saya.  Saya menanyakan mengapa menangis. “Saya juga punya saudara di Jakarta,” katanya.  Dia seorang wanita dari Koli (Kodi). Dia teringat akan saudaranya Ans yang sudah lama tidak pernah berjumpa. Lalu saya menyebut Ans Aja, dan dia membenarkan. Saya memperkenalkan diri dan menyebut nama Pak Robert Aja bersama isterinya Ibu Salome Ngoe pernah berguru di SD Romba, waktu itu masih Sekolah Rakyat (SR).

Beberapa wanita dengan nampan  menjual makanan ringan. Para wanita pedagang asongan di persimpangan jalan ini menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Yang menarik adalah sejak  terbukanya jalan dari Raja menuju Maunori dan sekarang sudah sampai Bengga bahkan Kedimali membawa banyak perubahan. Sampai sekarang orang Nagekeo masih ingat  akan andil dari Bapak Yacob Nuwa Wea pada terbukanya isolasi ini. Atas inisiatifnya pemerintah daerah memperhatikan  wilayah ini.  Kalau dulu orang harus berjalan kaki memotong Irueti dari Nasawewe, kini dari Puuwada orang langsung menyeberang ke Mbeku, Puukodi  terus ke Maunori.  Dan sekarang sebahagian besar kampung di Keo Tengah sudah terjangkau kendaraan. Menurut seorang kerabat yang baru pulang kampung jalan dari Maunori sampai Bengga sudah diaspal mulus. Dan ini berarti janji kampanye Pilkada terpenuhi.

Perubahan telah terjadi dan terus berjalan. Kehadiran para wanita penjual makanan ringan mulai dari kacang tanah Rp. 1,000/bungkus, roti dan ubi-ubi, aqua gelas, biscuit dan rokok  adalah sebuah kebiasaan baru. Sebuah pemandangan yang tak jauh berbeda  seperti di terminal dan stasiun kereta di pulau Jawa. Ada permintaan dan penawaran  serta terciptanya peluang usaha bagi yang jeli melihatnya. Wanita Koli dan Wolowea melihat peluang dan memanfaatnya. Sebuah warung nasi sederhana yang  lumayan bersih milik biara suster juga ada di pinggir jalan raya Bajawa-Ende. Sayang warung nasi dibuka terlalu siang sebagaimana warung nasi di Boawae.  Jangan berpikir untuk mencari sarapan di sana.

Selain kegiatan business kecil seperti pedagang asongan dan warung nasi, tentu arus barang dagangan semakin lancar di wilayah selatan. Lancarnya arus lalu lintas  berdampak pada kehidupan ekonomi. Pengaruh possitif lainnya adalah cara hidup dan etos kerja turut berubah. Orang mulai disiplin terhadap waktu. Mereka jadi biasa bangun pada waktunya untuk mengikuti jadwal kendaraan. Semangat kerja juga berubah. Untuk bisa memanfaatkan kendaraan, mereka membutuhkan uang untuk ongkosnya. Dan mereka harus bekerja dan bekerja agar selalu punya uang di tangan.

Ada peningkatan semangat kerja. Buktinya bukit-bukit menjadi hijau dengan tanaman keras bernilai ekonomi seperti  jati, cengkeh, kakao dan kopi serta kemiri. Kemiri dan jambu mede sudah lama dibudidayakan sejak Drs. Matheus Bey  almarhum memimpin kabupaten Ngada. Abu dari Mauwedu tidak membiarkan sejengkal tanah kosong. Dia menanam berbagai tanaman ekonomi yang dia sebut dengan  “kaju wonga bhala” (kembang putih) yaitu kakao.  Setelah Dorameli,  bukit Wesawa (Wesawala) yang  tertutup rumput belukar, selanjutnya sebuah pemandangan Nagekeo  selatan yang hijau dan subur sejauh mata memandang dari Raja sampai Maunori. Hijau raya yang menjanjikan sebuah harapan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s