POLITIK DAN ALTER EGO

Pagar tinggi tanda tak aman..

Ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat NKRI seketika gaduh begitu Marzuki Alie mengetuk palu menutup sidang. Para anggota dewan terhormat itu  maju ke depan bagaikan serigala merebut mangsa. Laksana serigala hutan Afrika, itulah jenis binatang buas yang rakus dan selalu membunuh bintang rumah. Mereka bringas  ingin menyerang seorang pemimpin mereka. Marzuki Alie  adalah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat pertama kali memimpin sidang. Mereka geram Marzuki Alie menutup sidang tanpa mendengar interupsi lagi.   Penampilan awal Marzuki Alie masih seorang bersahaja dari sananya.

Marzuki Alie ternyata tidak sendirian. Ada sejumlah Wakil Rakyat juga demikian. Ada Wakil Rakyat yang artis mengajukan protes keras karena ada yang agak meragukan kapasitas isi kepalanya ketimbang lawak dan teriak hura-hura seorang entertainer. Dia mengggap ada yang  merendahkannya. Kalau mau jujur, mereka juga masih dari sananya. Mereka bukan luar biasa dengan kecerdasan dan kemampuan pada batas biasa. Mengikuti perjalanan waktu orang-orang dengan pembawa sifat baik  telah berobah menjadi pribadi baru. Mereka sungguh berobah menjadi seorang politisi sejati. Mereka menjadi alter ego.

Penampilan terakhir Ramadhan Pohan  menentang arus membela habis Marzuki Alie menarik untuk diamati. Saya terus terang merasa muak. Walau saya tak kuat menghindari rasa ingin tahu itu.  Yang saya heran dia sampai tidak sempat menoleh pada orang-orang sekitarnya yang menatap dan senyum mencibir. Dan benar sesudahnya  seorang anggota DPR dari partai Hanura meledak amarah. Ramadhan Pohan  sangat sering muncul dalam acara TV. Ramadhan seperti semua orang dari kelompok partainya menunjukkan loyalitas luar biasa pada kelompoknya. Ini adalah solidaritas  kelompok. Semua pemirsa juga tahu bagaimana kalau Ruhut Sitompul bicara tentang SBY. Selalu menambah keterangan yang kami hormati dan sederet pujian. Setia kawan dibangun bersama. Apa saja yang berhubungan dengan Partai Demokrat dibela mati-matian. Bae tidak bae Demokrat pasti lebe bae.

Sampai sekarang telivisi masih tayangkan berulang-ulang.  Pemirasa tak akan pernah lupa wajah M. Nazaruddin didampingi oleh Benny Hartman dan Ruhut Sitompul. Ruhut Sitompul sudah tidak tampak batang hidung setelah banyak kali beradu argumen dan berseberangan dengan orang satu geng dan melupakan etiket serta kesetiakawanan. Demikian Benny Hartman yang juga disebut sering bersama M. Nazaruddin memilih diam. Pemirsa televisi menyaksikan tangan-tangan  mereka terkepal kokoh sambil menegakkan jempol menjulang. Ini juga siaran sepotong-sepotong dan berulang-ulang tentang bagaimana solidaritas dari orang partai. Solidaritas kita anggap sikap dari sananya. Saling mendukung dan saling berbagi serta mementingkan orang lain. Sebuah sikap yang berasal dari dasar nurani. Saling menjaga, saling berbagi dan memberi.

Membangun pagar tanda  tidak aman.  Para pedagang dan pembuat narkoba selalu berlindung  di balik pagar dan semuanya dibuat tertutup.  Mereka selalu berdiam di rumah dengan pagar tinggi. Bahasanya saja sandi.  Begitu seorang berkenalan dan berinteraksi dengan kelompok ini, maka sudah pasti akan terkontaminasi. Dan dia juga harus aman dan diamankan oleh gengnnya. Terkontaminasi lalu menjadi alter ego. Menjadi ego lain  dengan sejumlah karakter baru.

Sederetan nama orang-orang  dari Partai Demokrat sungguh memberikan pelajaran kepada bangsa ini. Mereka telah membuka mata orang-orang sederhana memahami secara buruk bahwa menjadi seorang politik dan bergabung dengan sebuah partai politik bagai bergabung dengan sebuah geng.  Mereka terkontaminasi dan berubah menjadi ego lain. Ego berkarakter baru  yang mau menang sendiri. Segala yang berhubungan dengan kelompoknya selalu  dilindungi.

Memahami orang dari sananya adalah berusaha mengerti cara berpikir  orang desa. Mereka  itu selalu bersahabat, hidup secara bersama-sama (komunal). Komunitas pertama yang terbentuk adalah sebuah kelompok basis yaitu keluarga.  Karena itu mereka memiliki kebiasaan untuk saling memberi dan berbagi. Mereka memiliki sikap yang suka mendahului orang lain (altruis), mereka saling menjaga  dalam suasana kebersamaan.

Ada asumsi dasar bahwa  seorang  sesungguhnya baik dari sananya . Tetapi begitu keluar dari sana dan kesininya  ada interaksi dengan lingkungan lain.  Ketika itu seorang bagaikan terbelenggu oleh kebiasaan-kebiasaan lain dalam hidupnya. Ini yang kemudian merobah sikap altruis menjadi tegas seorang alter ego. Menjadi seorang yang lain.

Kejahatan biasanya mulai dengan kobohongan dan orang Flores bilang politik itu bohong. Orang desa dan sederhana tidak  berbicara dengan logika. Bahasa mereka adalah bahasa hati. Bahasa hati berintikan bisikan nurani dan itu adalah kebenaran.  Pertanyaan kita bahasa apa yang digunakan oleh para politisi? Mereka juga menggunakan bahasa sandi seperti geng Narkoba. Ada apel Malang dan Apel Washington.  Sekali lagi, maaf sekali lagi maaf jangan-jangan  politik itu memang jahat. Lalu bagaimana  dengan orang-orang yang ada di Senayan?

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Politik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s