KAMPUNG UA SEBAGAI TANA FAI WATU ANA

Dalam satu acara misa 40 hari meninggalnya  almarhum Yoakim Pita Mbeu saya pernah mengatakan bahwa orang Romba tidak pernah ndou mapi wati gata dengan orang Witu Mauara. Ndou mapi artinya saling membantu dalam mengumpulkan (ndou) makanan yang sudah ditanak (mapi) pada saat pesta adat.  Wati gata artinya saling memberi setakaran wati dan gata (bakul anyaman), biasanya dalam bentuk padi atau beras.  Mungkin ada yang merasa tidak enak mendengar pernyataan ini. Tetapi ini memang sebuah kanyataan. Orang Romba tidak merasa udu eko dengan wilayah Witu Mauara. Dan disitulah terletak peran bapa Yoakim sebagai kepala desa mempersatukan Witu Mauara dengan Romba. Komunikasi dengan orang Witu Mauara menjadi lebih mudah karena bapa Yoakim mengambil isteri dari Mauara.

Menurut pengamatan saya hal serupa terjadi dengan kampung Ua. Walau memiliki beberapa orang keluarga dekat dari sisi bapa mau pun mama, tetapi saya jarang menyaksikan dalam upacara adat orang Ua terlibat intensif dalam kebersamaan sosial dengan orang Romba secara ndou mapi wati gata.  Pada hal Witu Mauara, Ua dan Romba secara administrasi merupakan satu desa.   Ua juga  tidak bersatu dengan Romba secara teritori adat. Kampung Ua memiliki udu eko dengan Jawawawo.

Semua orang Romba terutama yang tua-tua pasti tahu bahwa tanah Romba adalah tanah milik Rogo Rabi. Rogo Rabi adalah pelaut Bugis yang menjadi penghuni pertama lahan kosong di wilayah itu. Menurut cerita Rogo Rabi membawa serta dua orang saudari. Mereka menetap di Romba (sekarang Romba Wawo). Seorang saudari Rogo Rabi bernama Boti Bartaso yang cantik jelita kemudian menikah dengan Rangga Ameari dari kampung Nua Ora (Udi). Keluarga Rangga Ameari sebagai pemangku adat di Udi Worowatu.  Satu ketika Ejo Keo datang ke Romba untuk jual sirih pinang. Dia singgah di rumah Rogo Rabi. Ketika Ejo Keo keluar dari rumah, Rogo Rabi yang merasa jijik atas kehadiran Ejo Keo yang berpakaian kotor kemudian menyiramkan air ke tempat yang diduduki Ejo Keo. Ejo merasa terhina (kisi koka) kemudian terjadi pertengkaran.

Ejo Keo bersama Meo Sia dari Kodiwuwu menjadi sangat  marah karena sesudah peristiwa pertengkaran dengan Ejo Keo, Rogo Rabi membunuh seorang wanita di Kodiwuwu. Sebaliknya Rogo Rabi merasa terpuaskan dengan membunuh wanita, serasa membunuh Ejo Keo yang dekil dan berbau (hu wau mbesu menge). Ejo Keo dan Meo Sia terus mencari cara untuk membunuh Rogo Rabi.

Ejo Keo dan Meo Sia memuncak kemarahannya dan terus menggalang perlawanan terhadap Rogo Rabi setelah orang Bhati (dekat Pei Poo) membantu Rogo Rabi membunuh anak-anak Ejo Keo dan Meo Sia yang mengambil pucuk daun lontar di Romba.  Ejo Keo dan Meo Sia kemudian bersekutu dengan Rangga Ameari untuk membunuh Rogo Rabi. Rangga Ameari yang adalah ipar Rogo Rabi meminta keponakannya Todi Wawi (anak dari Wawi Ari) untuk melamar seorang saudari dari Rogo Rabi. Adik dari Boti Bartaso ini dimanfaatkan sebagai sumber informasi tentang Rogo Rabi. Melalui adiknya ini mereka mengikuti gerak gerik Rogo Rabi serta mempelajari kelemahan Rogo Rabi. Rogo Rabi kemudian dibunuh hanya dengan sebuah batu kecil saja sebagaimana diajarkan oleh  saudari dari Rogo Rabi sendiri.  Setelah kematian Rogo Rabi, semua orang Bhati melarikan  diri menuju Sigho dan Mboro dan Bima di Barat dan beberapa pindah ke Timur di wilayah Ende Lio, yang sekarang ada kampung Bhati.

Sepeninggalnya Rogo Rabi diadakan acara adat Poto Utu Tana dan Kobi Lunga di Kodiwuwu tempat Ejo Keo.   Poto utu tana adalah acara gembira makan bersama  dengan menyembelih babi dan kerbau sebagai perayaan kemenangan perang melawan Rogo Rabi. Kobi lunga upah lelah, penghapus keringat adalah pemberian penghargaan atas partisipasi dan pengorbanan seorang.  Ketika acara adat ini Todiwawi yang merasa telah habis-habisan mengorbankan isteri dan anak yang sedang dikandungnya meminta hak istimewa. Dalam usaha membunuh Rogo Rabi isteri Todi Wawi bersama bayi yang sedang dalam kandungan dibunuh dengan sadis setelah diarak 4 kali mengelilingi watu peo.  Lalu dalam kesepakatan kepada Todi Wawi diberikan tanah wodo Ua yang menyatu dengan Jawawawo. Karena tanah ini merupakan tanah atas pengorbanan darah isteri dan anaknya maka disebut dengan Tana Fai Watu Ana.  Semua tanah Romba menjadi milik Ejo Keo orang Kodiwuwu yang kemudian diberikan  pada orang Romba.  Dan ini yang menjadi dasar hubungan khusus sao tenda (satu rumah adat) antara orang Romba dengan orang Kodiwuwu (Pau Toda). Maka ketika terbentuk wilayah administrasi pada jaman Belanda ada Hamente (Gemente) Pautola dengan ibukota Romba. Seorang kepala Hamente yang dikenal dengan Kepala Mere bernama Mohamad Saleh Ria (ayah dari Tua Ria, Ahmad Ria). Wilayah kekuasaannya termasuk Pautola, Romba Ua dan Witu Mauara.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s