BUDAYA TIE MAE

Siang itu om Frans Situ dari Maukeli mengunjungi  kerabatnya seorang saudari ibu Wea Ito di sebuah pondok di Aesemi. Dalam percakapan di siang itu dia menyinggung tentang seorang keponakannya Laurens Noo yang masih muda. “Yoga Noo bhile ba, mona tau ne’e tie mae”( Noo bagaimana tidak memiliki tie dan mae). Noo dianggap hidup tanpa aktivitas yang bermanfaat.

Bagi orang-orang Nagekeo, khusus di pesisir selatan dua kata ini sangat populer. Setiap hari kata ini selalu di dengar pada pagi dan sore hari. Tie sebenarnya adalah kata yang diucapkan untuk memanggil anjing. Tie…tie….disusul dengan nama anjing maka anjing yang mendengar suara tuannya akan datang. Walau ada banyak anjing di kampung, tetapi hanya anjing yang mengenal suara tuannya akan datang merapat sambil mengibaskan ekornya. Mae adalah kata yang diucapkan untuk memanggil babi. Mae…mae…maeeeee. Betapa banyak babi berkeliaran setiap babi mengenal suara tuannya. Babi akan segera datang merapat ke tempat ada palungan panjang berisikan makanan.  Orang Nagekeo biasa memberi makan babi di samping rumah, bahkan dahulu ada yang melakukannya di depan rumah. Masa itu babi dan semua ternak tidak pernah dikandang. Masyarakat hanya memagar kebun.

Kehidupan masyarakat adat Nagekeo tak bisa lepas dari kebutuhan akan binatang ternak.  Hidup terasa nyaman, kuat dan berpamor bila memiliki ternak paling sedikit ada ayam, babi dan anjing.  Inilah jenis binatang yang dalam kehidupan harian biasa dapat dijadikan sebagai sajian tamu. Hidup tanpa bintang-binatang rumahan ini disebut muri penga atau muri oa (hidup kosong atau tanpa busana). Daging ayam dianggap sebagai sajian yang umum. Daging babi disajikan oleh pihak saudara lelaki kepada pihak saudari dan paman kepada keponakan. Sebaliknya daging anjing disajikan oleh saudari kepada saudara lelaki. Anjing biasa dibawa  pada saat seorang lelaki meminang wanita . Tetapi kini lebih banyak menggunakan kambing. Tie mae akan terus hidup dalam masyarakat Nagekeo karena selain bernilai sosial dalam kebutuhan adat juga mempunyai nilai ekonomi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to BUDAYA TIE MAE

  1. alberto says:

    makasih kae tali….mendalam sekali ….

  2. Tanagekeo says:

    Ari Albe, te jao sengaja tuli wado pata pede koo kaka Fera Situ sebagai memori. Juga utu tanta saya Yuli Ea Kajo, saya selalu ingat kunjungannya ke Seminari dan perjalanan dari Kupang ke Ende mbui pesawat ne’e bapa jao.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s