JANGAN TAKUT MENGHADAPI MASALAH

Sebuah rak etalase bekerangka rotan  dengan rak-rak kaca harus digeser untuk menghemat ruangan.  Malam nanti  ada banyak tamu akan berdoa di rumah kami. Rak ini  berada di area ruang makan. Berbagai macam pernak-pernik hiasan semacam sovenir ditempatkan di rak ini. Terkadang ada kaca mata, gunting kuku dan juga surat-surat yang masuk ditempatkan di rak ini.  Sebagai orang Kristen ada juga benda-benda rohani, rosario dan salib serta air berkat.  Ada tiga buah salib semuanya penuh debu. Satu salib kecil dengan rangka palang berbahan fospor yang bila gelap  secara otomastis bercahaya.

Karena ada kebutuhan salib untuk meja upacara misa, saya mengambil salah satu salib yang terbuat dari bahan kuningan. Salib ini sudah sangat hitam karena tak pernah dibersihkan. Salib ini kemudian dibersihkan dengan odol gigi dan sikat. Saya berusaha keras menggosoknya berkali-kali.  Agar lebih bersih saya merendamnya dalam air sabun, disikat dan digosok dengan kesabaran tingkat tinggi sampai kinclong. Karena saya lihat hasilnya memuaskan, saya ambil dua salib lain dan membersihkannya.  Setelah bersih ketiga salib itu saya taruh berjejer berurutan sesuai dengan ukurannya.  Saya memandang salib-salib itu. Saya memandang corpus, gambaran tubuh Yesus di salib. Masing-masing ukuran kayu palang disesuaikan dengan corpus Yesus. Ketiga salib tersebut membawa saya pada sebuah permenungan. Perbedaan tidak sekedar ukuran matematis. Masing-masing salib mewakili palang penghambat dan beban derita yang dipikul setiap orang dalam ziarah hidup masing-masing.

Orang Kristen menerima kehidupannya sebagai perjalanan dan ziarah bersalib. Ada kewajiban untuk siap memanggul berbagai masalah sebagai palang kehidupan. Saya terus saja memandang ketiga salib. Tak saya sadari bahwa semua salib yang ada di rumah saya entah yang ada di palang pintu sesudah ruang tamu tidak pernah saya beli. Salib yang ada di palang pintu itu diperoleh  ketika saya beli  aksesori Natal di salah satu toko buku. Saya kembali ke rumah sudah larut. Ketika saya buka kantong plastik yang ditutup rapat petugas toko buku itu ternyata  ada sebuah salib. Hujan kemudian mengguyur deras, saya tidak mungkin kembali ke toko. Malam itu hari raya Natal. Dan menyusul hari libur. Saya lalu memasang salib itu di palang pintu rumah kami. Salib kehidupan memang tidak pernah diminta. Salib itu hadir dengan sendirinya dalam hidup setiap orang. Itulah salib kelelahan, salib sakit dan penyakit, salib masalah kehidupan yang terpaksa dihadapi.

Salib adalah kayu palang, sebuah beban hidup yang menekan bahkan menghambat lajunya jalan hidup kita.  Seperti semua salib yang tak pernah saya beli dengan uang, salib kelelahan, sakit dan penyakit serta berbagai problem  hadir dalam kehidupan kita tanpa diminta. Salib memang bagian dari hidup kita. Saya memandang lagi tiga salib di depan saya pagi ini. Ternyata setiap salib (kayu palang) disesuaikan dengan ukuran corpus Christi. Kehadiran Tuhan dengan rahmat-Nya disesuaikan dengan seberapa besar beban yang kita pikul. Jangan takut kalau kita memang harus menerima beban kehidupan. Karena sebagaimana ada keseimbangan besar corpus dengan kayu palang, demikian juga pertolongan dan rahmat Tuhan sesuai dengan kebutuhan kita untuk menyelesaikan berbagai masalah dan beban (salib) kita. Karena itu jangan takut menghadapi masalah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s