BENEDIKTUS GEJU GURUKU

Pagi ini saya berbicara dengan Polikarpus Rangga SVD, seorang  pastor misionaris yang bekerja di Sao Paulo,  Brasil dan juga Philipus Tule SVD, seorang pakar dalam ilmu agama  Islam dosen dan mantan rektor di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Paulus, Ledalero, Maumere. Keduanya kebetulan lagi berada di Jakarta.  Rencananya  besok malam keduanya akan berkunjung ke rumah saya.  Setelah berbicara dengan keduanya  melalui telepon, pikiranku terbawa ke seorang guru bernama Benediktus Geju.  Guru Bene adalah  guru sederhana tetapi dia sesungguhnya pendidik dan guru sejati. Guru Bene adalah juga guru  dua orang pastor ini.

Ketika Andy Noya, yang terkenal dengan pembawa acara Kick Andy  menghadirkan gurunya dalam sebuah kisah, Andy tak kuasa menahan air matanya.  Andy menangis haru di depan kelas ketika mengunjungi sebuah sekolah untuk menjumpai seorang anak dengan kemampuan terbatas.  Anggota tubuh yang bisa dimaanfaatkan maksimal hanya kaki kanan. Dengan kaki kanan dia bisa menulis dan melukis.  Andy datang untuk memberi perhatian dan membawa bantuan.

Hari ini saya mengingat guru kesayangan saya. Saya memang memiliki banyak guru. Tetapi dari semua guru, seorang guru yang sungguh pendidik istimewa bagi saya, yaitu pak Bene (Benediktus Geju).  Satu kebiasaan yang selalu saya ingat adalah dia selalu membawa satu notes kecil di kantong baju. Dia selalu mencatat sesuatu bila perlu. Kata seorang puteranya, dia sempat mengintip isi catatan. Ya saya lihat bapa tulis:’ saya bertemu si A anak dari seorang, kami makan ikan asin”, kata Emil Bei putera guru Bene sambil ketawa.  Selama menjadi muridnya tidak  pernah sekali pun saya melihat dia menunjukkan sikap marah. Dia selalu tegas, tetapi kalau dia menyuruh selalu bersifat perintah yang dirasa sebagai ajakan. Kalau memang kami mematuhi perintah murni karena kewajiban.  Dia selalu memperlihat sikap sebagai bapak yang mengasihi. Ada perasaan bahwa kami masing-masing disayangi oleh guru. Kalau kami respek padanya timbul dari hati yang paling dalam bukan karena terpaksa karena hubungan guru dan murid.

Hubungan guru-anak didik yang kami alami semasa sekolah berkembangan menjadi hubungan bapa-anak atau saudara dan sahabat setelah masa pendidikan selesai. Sampai hari ini, dan itu berarti sudah sekian puluh tahun kami selalu membangun komunikasi. Kondisi pulau Flores berbeda dengan kondisi di pulau Jawa. Andy Noya harus bersusah payah berusaha untuk mencari ibu gurunya. Kami tidak perlu susah payah mencari tempat tinggal guru kami. Setiap kali kembali ke kampung halaman, selalu ada kewajiban untuk menengok orang tua kedua yaitu guru kami. Dan saya akan selalu berusaha mendapatkan kesempatan berjumpa dengan bapa guru Benediktus Geju. Semoga guru Bene selalu dikarunia oleh Tuhan kesehatan dan umur yang panjang.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s