SYUKUR ADALAH RUANG SEMPIT DAN JEDAH SINGKAT

Sebagai seorang beriman Kristiani, hidup dipandang sebagai  sebuah perjalanan memanggul salib bersama Yesus. Memanggul salib berarti siap berbakti dan memikul beban melalui berbagai aktivitas kehidupan. Dengan demikian rasa lelah, sakit dan penyakit serta berbagai problem batin menjadi bagian tak terpisahkan yang akan selalu ada dan hadir dalam kehidupan kita. Karena itu dalam setiap keadaan kita juga patut bersyukur.

Bersyukur itu seperti sebuah ruang kecil bahkan teramat sempit dan jedah singkat dimana kita sebagai orang beriman sejenak beristirahat  untuk  mengevaluasi dan memaknai kehadiran Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Kehadiran Tuhan tentu melalui orang-orang sekitar kita. Ada orang yang seperti Petrus meledak-ledak ingin membela kita dengan garang. Ada orang yang mungkin berperan seperti Simon Kyrene yang coba mengambil alih beban kita, atau ada yang seperti wanita yang menonton meneteskan air mata batin  merasakan  duka kita. Juga bisa seperti wanita yang menyorongkan kain putih menyeka peluh, yang memberikan hiburan kata-kata nasehat yang melegakan. Bisa juga seperti Yoseph Arimatea ingin menguburkan segala masalah kita sehingga kita bisa seperti Yesus bangkit lagi dari keterpurukan dan masalah kita. Ada juga orang seperti  Maria  memendam beban hati mengikuti  kita yang sedang berbeban duka dan derita  dengan diam dan doa.

Saya bersyukur pada Tuhan pada tanggal 14 Juli 2011 genap 36 tahun mengarungi suka duka kehidupan Jakarta.  Selama 32 tahun saya diberi rahmat dan kekuatan oleh Tuhan sehingga membesarkan anak-anak saya dan memberikan pendidikan yang baik.

Saya mungkin pantas lebih bersyukur. Akhir-akhir ini setiap pagi saya mengucapkan syukur karena  Tuhan memberikan saya waktu satu hari lagi. Tanggal 15 April 2011 saya masuk rumah sakit. Dan pada  Sabtu tanggal 16 April dini hari saya  diberi Tuhan “the second wing”, sayap cadangan untuk  terus bisa terbang. Ada dua cincin, semacam gorong-gorong yang membuat darah saya bisa mengalir ke jantung.  Ini sebuah sayap yang lemah dan rapuh. Saya terkadang merasa tak leluasa bergerak karena ada rasa sakit yang sangat mengganggu. Hasil Scan di Rumah Sakit  Harapan Kita memberi peringatan kepada saya, bahwa ada titik yang lebih serius  di jantung saya yang harus diwaspadai.

Manusia bukan pajangan. Manusia hanya berarti kalau dia hidup dan berbuat sesuatu.  Bagaikan lilin yang hanya bermanfaatkan kalau disuluh api demikian manusia harus terus dibakar semangat untuk terus beraktivitas dan siap menghadapi berbagai permasalahan hidup.  Saya  pantas  merayakan syukur atas hidup ini dengan terus berbuat dan berbakti.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s