THE SPIRIT OF PALI-PALI

Kaja, pali-pali. Ayo pergi, cepat-cepat. Pali-pali adalah  kata-kata yang paling banyak di dengar dalam kehidupan harian orang Korea.

Saya mengenal orang Korea sejak tahun 1987.   Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sampai hari ini saya masih bekerja sama dengan orang Korea. Saya termasuk orang yang beruntung, karena pertama berkenalan dengan orang Korea sebagai sahabat. Bos-bos memperlakukan saya agak istimewa. Hampir di setiap perusahaan saya selalu bergabung dengan karyawan Korea, mendapat fasilitas lebih dan mencicipi makanan Korea.  Sering diajak makan siang di restaurant Korea .  Atau makan malam sambil minum soju, minuman khas Korea  disusul menikmati bir sambil berkaraoke. Saya menjadi lebih kenal Korea dengan beberapa bulan berkelana tanpa kerja di Korea.

Saya bergabung dengan perusahaan-perusahaan Korea  umumnya sejak awal berdirinya.  Saya diajak dan terlibat sejak pembuatan akte dan perijinan. Ini yang membuat posisi saya agak istimewa.

Pertama kali saya berhubungan dengan seorang Korea yang berprofesi sebagai agen pembeli pakaian jadi (Buying Agent). Dia kemudian memperkenalkan saya pada seorang General Manager sebuah perusahaan garmen. Sang general manager kemudian memberikan saya pekerjaan sebagai pemasok aksesori. Ia sangat terkesan setelah pertemuan dengan saya.  Saya tidak mau sia-siakan. Semua pesanannya saya kirim pada waktunya. Dia kemudian menyampaikan pujian melalui adik saya, yang juga bekerja di perusahaan itu. Saya mulai paham bahwa bagi orang Korea disiplin waktu itu penting. Suatu saat saya mengalami masalah kirim karton box.  Pada hari yang dijadwalkan sampai sore saya belum kirim. Saya beli karton polos dari satu perusahaan kemudian saya bawa ke tukang sablon di daerah Senen. Pekerjaan sablon baru selesai pada jam 2 pagi. Barang masuk pabrik pada jam 4 pagi, ketika jam kerja dan barang dibutuhkan semuanya tersedia.

Perlahan saya mulai belajar bahwa orang Korea ingin semua pekerjaan cepat selesai. Kalau saya menjanjikan pengiriman barang saya berusaha mendapat kelonggaran waktu yang cukup. Kemudian barang dikirim lebih cepat dari waktu pengirim yang dijanjikan. Sebuah strategi jitu. Satu demi satu order berdatangan.

Apa yang paling berkesan dalam bekerja sama dengan orang Korea.

Dalam kehidupan kerja orang Korea ada kata yang selalu kita dengar dan menjadi budaya yaitu kata Pali – Pali. Pali-pali artinya cepat-cepat atau ayo lekas-lekas. Kalau kita berada di Korea, kata ini terdengar di mana-mana.
Di sudut-sudut jalan, di sekolah, pasar, subway atau di supermarket kata Pali-pali selalu merocos cepat keluar dari mulut orang Korea.

Budaya pali-pali ini mungkin ikut menjadi andil  pada kemajuan negeri gingsen ini. Kalau Amerika membutuhkan waktu 200 tahun untuk mencapai sebuah kemajuan, Korea hanya membutuhkan waktu sekitar 50 tahun untuk mencapai kemajuan yang spketakuler seperti saat ini.

Semuanya selalu ingin pali-pali (segera). Menyelesaikan dengan cepat tentu butuhkan keuletan. Dan orang Korea adalah pekerja keras, ulet dan pantang menyerah. Apa yang bisa diselesaikan hari ini dan segera, maka tidak ada kamus untuk menunda besok. Orang Korea sangat tidak senang mendengar kata ‘tidak bisa.’  Semua pekerjaan harus diterima dan diusahakan maksimal. Jangan pernah ditolak dan dikatakan tidak bisa.

Semangat kerja pali-pali sungguh bertolak belakang dengan slowly but sure. Apa yang membuat orang Korea merasa harus cepat-cepat?  Orang Korea memang selalu bergegas, karena bila tidak mereka akan tertinggal. Mereka tidak ingin tertinggal.

Budaya Perusahaan

Saya bekerja di perusahaan-perusahaan milik pribadi. Yang disebut budaya perusahaan (corporate culture) sangat tergantung dari pada karakter para pemilik atau pendirinya. Karena itu setiap perusahaan memiliki keunikannya masing-masing. Ini menjadi asset perusahaan yang tak bisa dijiplak. Ini juga yang memberi ciri yang membedakan perusahaan yang satu dengan yang lain.

Semangat kerja keras dan berdedikasi sang pemilik atau pendiri sangat mempengaruhi karyawan perusahaan. Orang Korea sangat menghargai semangat kerja keras dan bila perlu mereka memberikan imbalan atau hadiah.

Pemilik perusahaan berusaha membina hubungan sangat dekat dengan para karyawan.  Perusahaan melalui pemiliknya memperlakukan karyawan sebagai keluarga besar.  Dengan demikian sebaliknya karyawan merasa betah dan merasa ada ikatan batin sebagai keluarga perusahaan. Perusahaan menjadi keluarga kedua.

Ketika perusahaan berkembang dengan karyawan yang banyak, para manager sering membentuk lingkaran orang-orang  kepercayaan yang dekat dan dapat dipercaya. Ada perlakuan-perlakuan khusus untuk membina semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Untuk menarik perhatian sering karyawan tertentu diberi hadiah atau insentif sebagai bentuk perhatian khusus.

Disetiap perusahaan budaya pali-pali atau cepat-cepat selalu ditanamkan pada para karyawan. Kebiasaan untuk menyelesaikan secara cepat-cepat sudah menjadi watak yang tertanam dalam diri serta menjadi kebudayaan bersama dalam perusahaan Korea.

Dispilin Waktu

Orang Korea sangat tidak tolerir pada keterlambatan. Karyawan yang datang terlambat selalu member alasan karena macet. Kalau tahu jalannya macet mengapa tidak datang lebih awal, kata orang Korea.

Kebiasaan orang Korea pergi makan dan minum di luar rumah pada malam hari. Mereka sering menghabiskan waktu di tempat Karaoke. Seorang Korea biar mabuk dan sakit akan tetap datang ke tempat kerja pada pagi hari. Kalau tidak dalam keadaan sangat serius, mereka akan tetap bertahan kerja.

Mereka selalu focus dan total menjalankan tugas dan kewajibannya. Waktu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kalau kita katakan waktu adalah uang atau emas, orang Korea mengisi waktu sebagai jalani hidupnya sendiri. Waktu adalah hidup.

Sangat berbeda dengan di Indonesia. Suatu hari saya pernah ikut bekerja di sebuah perusahaan. Karena jadwal pengiriman mendesak, maka  dibutuhkan karyawan paruh waktu. Hari itu saya mengikuti karyawan Indonesia untuk pekerjaan pemasangan mesin speda motor. Bok mesin sepeda motor buatan China. Mesin dibuka, diberi tulisan Made in Korea, kemudian di tutup lagi selanjutnya diberi label di pack.

Ketika tiba makan malam, sang bos mengundang kami makan bersama. Dan masakannya adalah masakan isterinya sendiri. Sebuah contoh bagaimana orang Korea memperlakukan karyawan sebagai keluarga.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s