RUHUT SITOMPUL TIARAP TAK BERSUARA

Siapa tak kenal Ruhut Sitompul di panggung politik? Si Poltak Ruhut Sitompul  selalu bersuara. Suaranya selalu saja keras dan meledak-ledak  khas orang Batak. Kalau sudah urusannya partai Demokrat, Ruhut pasti berada pada posisi jelas. Baik tidak baik Demokrat paling baik. Benar atau salah, dan pilihan jelas  Demokrat pasti punya benar sendiri. Ngotot luar biasa, tak ada yang lawan. Apabila sudah sampai kata SBY, Ruhut selalu bilang ‘Bapa SBY, ketua Pembina kami yang saya hormati.’ Ini mungkin  dianggap kata-kata pemanis buatan  dari seorang yang cari muka, tetapi itu yang selalu spontan dan selalu berulang keluar dari mulut seorang Ruhut Sitompul.

 Ketika kasus bendahara partai Demokrat mencuat, Ruhut menunjukkan rasa setia kawan tinggi.  Si Poltak  lantang mengakui Nazaruddin temannya. Setelah belang kebobrokan Nazaruddin menjadi terang benderang dan bendahara partai pemenang Pemilu dan juga partai penguasa  mengelabui temannya. Si Poltak dan Sutan Batughana tetap menjadi politikus handal, mereka selalu tahu keberpihakannya. Harus berada pada posisi aman.  Lihat wajah mereka, demi mengamankan posisi partainya selalu saja ada yang mereka  tutupi. Berbusa-busa mulut Sutan maupun Ruhut membela dan menutupi Nazaruddin. Masa orang secerdas politisi Demokrat, mereka sarjana yang tentu saja  intelligent, tetapi bertemu Nazaruddin di Singapura lalu tidak tahu di mana tempat tinggal dan rumah sakit tempat Nazaruddin berobat.  Mereka seperti lupa bahwa tiap kali melakukan kebohongan, maka akan lahir anak dan seterusnya menurunkan belerot  cucu kebohongan untuk menutupi moyang buyut kebohongan.

Ruhut kini diam saja. Aneh bin ajaib Ruhut yang begitu semangat dan selalu berusaha mencari corong untuk bersuara, kini benar tiarap.  Seorang preman bahkan mantan narapidana yang pernah menjagal sesamanya selalu bisa tunduk pada seorang wanita.  Jamak saja Ruhut akhirnya  tunduk dan merunduk dalam sedalam-dalamnya,  lalu  seterusnya diam seribu bahasa. Dan wanita jua yang membuat dia tak berdaya. Gaungnya jelas. Kalau saja lebih banyak wanita yang dimadu para anggota Dewan bersuara, bisa saja seperti Ruhut, panggung Dewan Perwakilan Rakyat bakal senyap. Tetapi itu hanya khayalan belaka karena politikus selalu punya tabir cara mencari aman.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to RUHUT SITOMPUL TIARAP TAK BERSUARA

  1. Sophie says:

    Bocah kecil yang malang,,, “tangkaplah Nazaruddin”
    http://roganda.com/2011/07/nazaruddin-tertangkap/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s