SODOM – GOMORAH MUSNAH TAPI INDONESIA DISELAMATKAN SIAMI

Sodom dan Gomorah akhirnya dimusnahkan setelah sang nabi Ibrahim berkali-kali meminta belas kasih Tuhan. Dan yang terakhir kali nabi Ibrahim memelas berkata: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya ada sepuluh didapati di sana?” Firman Tuhan:” Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu”(Genesis 18,32).  Kota Sodom dan Gomorah dimusnahkan setelah permohonan terakhir dari nabi Ibrahim. Itu berarti kota- kota ini hanya dipenuhi oleh orang jahat.

Bukankah Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa yang penuh berkat melimpah? Indonesia memang besar dengan beribu pulau dan berbagai suku dan bahasa, beda agama. Sumpah berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yaitu INDONESIA seperti kehilangan daya rekatnya. Semangat juang para perintis kemerdekaan bangsa ini seperti menguap begitu saja. Kita menjadi bangsa yang rakus karena korup, ingin memiliki mengkapling lahan dan laut bagi kepentingan pribadi. Yang terjadi adalah tanah air beta tidak dalam pengertian  primordialis dan pribadi bagian dari satu bangsa. Kata beta tidak terkait dengan kita. Ego mengalahkan kebersamaan.

Orang tidak memikirkan bangsanya, tetapi yang dipikirkan dirinya dan keluarga serta kroni-kroninya. Tanah dan pulau sudah dikapling menjadi milik sendiri tanpa memikirkan kehadiran dan kepentingan orang lain. Orang kaya, yang mengatasnamakan investor tiba-tiba mendapat hak penguasaan hutan. Mereka menguasai lahan dan semua hasil hutan karena mereka punya uang. Sampai untuk kayu bakar pun penduduk dan pemilik hak ulayat harus mencuri. Anak negeri tiba-tiba hanya jadi pengayak limbah tambang emas di tanah negerinya sendiri seperti Papua, sementara orang dari daerah mana dan bangsa mana tak jelas hidup gemerlap memiliki emas batangan.  Yang tertinggal lubang-lubang tambang menganga di berbagai daerah ditinggal pemilik hak usaha. Dan sekali lagi rakyat anak tanahnya tak berdaya tetap menjadi penghuni lembah dan cekungan gersang.

Anak negeri ini sudah tidak lagi memiliki bahasa yang sama.  Segala yang diomongkan kaum elite politik harus diterjemahkan dan ditafsir ulang. Kata yang sama punya arti dan pemahaman bisa beda.  Kita seperti bangsa yang sedang membangun bangsa besar yang sesungguhnya penuh berkat. Tapi sayang bahasa kita sudah bukan satu, dan yang kita bangun adalah menara Babel. Menara yang tak pernah bisa dibangun karena kita tidak memiliki kesamaan bahasa dan pemahaman.

Ibu Siami dan puteranya mengatakan ada contekan bersama di kelas. Dan sudah ada guru yang dikenakan sanksi. Menteri Pendidikan yang pasti cerdas punya pemahaman sendiri. Dia secara cerdas mengabaikan kenyataan walau guru akhirnya berkata jujur dan dikenakan sanksi karena mengakui kebenaran pernyataan ibu Siami. Ada banyak kasus seperti Nazaruddin yang terlibat dalam berbagai masalah  dan  katanya Mahkamah Konstitusi  masih memiliki kasus besar yang siap dibuka. Bila ini dibuka maka akan bisa menimbulkan Reformasi jilid dua. Kita semua tahu jilid satu Soeharto penguasa negeri ini dan paling disegani negara-negara Asia akhirnya tumbang. Lalu jilid dua macam apa? Apakah SBY juga akan terhempas di tengah jalan seperti di Mesir? Atau seperti di negeri ini ketika Gus Dur yang diturunkan selagi berjalan?

Hari-hari kita adalah masa  pentas drama koruptor berkepanjangan. Kasus demi kasus terus bermunculan sambil kasus lama terpendam tak terurai. Ada asap pasti ada api. Ada api pasti ada yang menyulutnya. Begitu banyak orang, justru mereka orang-orang pilihan (elite) sedang membakar dan membarakan negeri ini dengan berbagai kejahatan. Dari Ketua RT dan RW, Kepala Desa dan Camat, Bupati, Gubernur dan Menteri, pegawai  Imigrasi dan Pajak  serta anggota Dewan yang terhormat itu  terlibat dan terjerat korupsi.

Rakyat seperti tak punya tempat bersandar untuk belajar dan berharap. Masih adakah orang baik di negeri ini? Masih adakah anggota dewan kita yang baik? Demi sepuluh orang baik, Tuhan tidak akan menghacurkan Sodom dan Gomorah.  Ibu Siami dan puteranya Alifah dari Gadean menjadi hitungan awal dan pasti ada tambahan  jumlah hitungan yang membuat negeri ini, bangsa ini tidak menjadi Sodom dan Gemorah.

Doa kita semua, doa anak bangsa ini: Tuhan, semoga kami memiliki kesamaan bahasa dan pemahaman serta satu dalam visi dan misi. Jangan sampai pambangunan bangsa ini hancur bagaikan menara Babel karena tak ada lagi saling pengertian. Jangan juga negeri kami jadi Sodom dan Gomorah. Jangan sampai kami hancur berantakan dibakar amarah murka Tuhan karena kami tidak cukup mengumpulkan sedikit orang baik di dalamnya.

Gambar:The Destruction of Sodom and Gomorrah, John Martin, 1852./Wikipedia

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s