BAKO PO’O BUDAYA YANG HILANG

Salah satu dagangan pasar tradisional Nagekeo adalah tembakau. Salah satu jenis tembakau adalah bako po’o , ramuan tembakau yang disimpan dalam bambu seperti nasi lemang. Sebuah tradisi ramu tembakau yang sudah menghilang. Ramuan irisan daun tembakau dimasukkan dalam bambu kemudian ditutup rapat lalu disimpan.  Ketika akan digunakan bambu dibelah dan tembakau padat itu didorong agak keluar dari mulut ruas bambu kemudian diiris tipis lalu diuraikan dan digulung pada daun lontar untuk diisap. Pada hari pasar bako po’o ini dibawa ke pasar untuk dijual. Ada yang punya banyak uang membeli utuh satu ruas bambu, tetapi kebanyakan orang hanya membeli beberapa iris saja.

Pasar tradisional yang  sekali dalam satu minggu digelar di alam terbuka.  Pasar tidak sekedar tempat transaksi jual beli dan barter barang, tetapi juga tempat pertemuan. Ketika transportasi sulit dan tidak ada komunikasi telepon, orang selalu berusaha menjumpai teman atau kerabat di pasar.  Bila ada pembicaraan yang belum rampung dan masih membutuhkan data informasi lain, biasanya akan dibicarakan pada pekan berikut di pasar (napa kita papa luka wado pasa reta wawo).  Mencari kerabat di pasar tidak sulit. Selain pasar yang tidak terlalu luas, juga orang-orang umumnya saling mengenal satu sama lain. Semua orang bisa saling memberikan informasi. Ada orang berdiri atau duduk dalam kelompok merupakan pemandangan biasa.  Sebagian orang ke pasar dengan berjalan kaki beberapa kilo meter hanya sekedar membeli siiris bako po’o dan merokok bersama teman dan kerabat.

Para penjual hasil kebun berupa jagung, beras, ubi  menggelar barang dagangan di tanah lapangan dengan alas seadanya. Cabe ditakar hanya dengan menggunakan tangan lalu ditempatkan di atas alas kertas. Sebagian hasil kebun umumnya ditempatkan dalam bakul-bakul dengan sedikit ditata agar mudah dilihat dan membuat orang tahu bahwa itu jualan. Karena pembeli dan penjual berbaur sambil ngobrol.  Kain-kain tenun tradisional ada yang digantung  pada tali atau disangkutkan  di pagar rumah sekitar pasar.  Semua transaksi dilakukan dengan tenang tak banyak gaduh. Tawar menawar juga sangat sopan. Karena pada umumnya saling kenal.

Dari semua penjual yang paling menonjol adalah penjual tembakau. Dua macam tembakau yaitu bako ra’u (tambakau irisan seperti tembakau Boyolali)  dan bako po’o (tembakau yang diramu dalam bambu).  Bako ra’u biasa dijual dalam jumputan  ditempatkan diatas alas kertas.  Bako po’o itu seperti nasi lemang. Irisan daun tembakau yang telah diramu kemudian dimasukkan dalam bambu dan ditumbuk agar menjadi padat. Ujung bambu ditutup rapat untuk menjaga penguapan yang menghilangkan aroma (menge).

Bako..bako menge malo ta musu sala talo (tembakau-tembakau wangi dan lembut, kesedapan isapan sempurna (tak salah lagi). Mai-mai (mari-mari). Seorang penjual bako po’o biasanya dengan suara lantang melagukan kata-kata itu di tengah terik mata hari di pasar-pasar tradisional. Bila ada yang merapat dia akan mengiris sedikit sekedar satu gulungan untuk mencoba. Atau ada para bapa yang hanya sekedar mencium baunya sudah paham nikmatnya tembakau.

Saya mengunjungi pasar tradisional wilayah Nagekeo di Maunori, Raja, Boawae, Nagaroro dan Mauneke serta Danga. Bako uwu atau bako ra’u  semakin sedikit terjual di pasar. Sementara bako po’o tidak ditemukan lagi dan tentu kita kehilangan budaya meramu tembakau istimewa yang  wangi dan lembut itu. Dan otomatis seni menjual sambil bernyanyi tidak lagi mengudara meramaikan pasar.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s