SOSIS BERWARNA DALAM SAYUR

Merah warna air kuah dalam oseng-oseng sayur bayam bercampur sosis rasa baso. Kami pun memutuskan untuk tidak mengkonsumsi sayur segar untuk makan malam keluarga. Warna merahnya sangat menyolok, membuat kami curiga mungkin ada zat warna .

Dari hari ke hari kita terus saja dihantui oleh penggunaan bahan pengawet dan zat warna berbahaya. Tempe, tahu dan ikan sudah banyak dicemari bahan-bahan pengawet berbahaya.  Pada hal ini jenis bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi. Sejumlah jajanan jalanan anak sekolah saja sudah termasuk dalam jenis makan tercemar.  Es bercampur tissue, gorengan tempe renyah bercampur plastik, tahu bercampur formalin, dan masih banyak makanan kecil yang dimakan anak sekolah dicampur zat warna tekstil, minyak goreng bekas yang dibuat bening dengan zat kimia. Lalu minyak yang sama digunakan berpuluh-puluh kali.

Suatu saat di sebuah warung makan saya pernah bercanda pada seorang wanita Korea, isteri teman . Dia menikmati kerupuk kulit. Dalam canda saya bertanya apakah dia tahu bahan bakunya. Saya mengatakan bahwa itu berasal dari kulit sepatu dan tas bekas. Sang nyonya langsung berhenti makan sambil menunjukkan raut muka merasa jijik. Ya Tuhan, apa yang saya katakan dalam canda lama kemudian menjadi kenyataan. Kerupuk kulit ada yang diolah dari sisa bekas samakan di pabrik kulit yang sudah tercemar bahan kimia penyamak.

Oseng-oseng bayam bercampur irisan sosis kami berwarna merah terbuang sia-sia.  Sayur terpaksa dibuang karena takut ada zat warna berbahaya. Pada plastik pembungkus tertulis komposisinya: DAGING SAPI SEGAR, AIR GARAM, TEPUNG(TAPIOKA, KENTANG), BUMBU-BUMBU.  Yang mengherankan adalah daging sapi segar mengeluarkan air berwarna merah setelah dimasak. Katakan kalau ini berasal dari zat warna seharusnya perlu penjelasan bahwa zat warna ini adalah zat warna makanan dan tidak berbahaya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s