IBU NEGARA DAN KAMERA BESAR

Selain Presiden dan Wakil Presiden didampingi isteri-isterinya, ada  Ketua MPR dan sejumlah Menteri dan pejabat tinggi Negara menghadiri perayaan Dharmasanti Waisak Nasional 2011/2555 Buddhis Era di Arena Pekan Raya Jakarta Sabtu malam (21/5)

Saya menonton melalui siaran televisi. Secara pribadi pidato Presiden SBY semakin membosankan. Semakin sering Presiden Indonesia ini hanya mengemukakan keprihatinan dan tidak bermuara pada keputusan dan tindakan. Kali ini dia juga sekali lagi mengemukakan keprihatinan atas sikap para pemuka agama karena dianggap pandai mencerca saja. Selanjutnya dengan kata yang sangat santun, suatu ciri kepribadian beliau, “Sungguh mulia jika berikan pernyataan yang menentramkan, mendamaikan dan memberikan motivasi kepada umatnya..”

Pada acara tersebut saya lebih tertarik pada drama musical yang mengkisahkan riwayat hidup Sang Bhuddha Gautama, yang juga menjadi penutup acara.  Kehidupan sang Buddha Gautama sedikit menyentuh kehidupan saya. Saya pertama kali membaca buku tentang Buddha Gautama di sebuah kamar hotel di Nagoya, Jepang. Sebuah buku milik hotel itu begitu menarik  sampai saya memohon pada manager hotel  sebagai kenangan.

Perhatian saya pada pentasan drama musical terbagi pada sebuah kamera besar bersandar pada kaki kamera yang berada  antara Presiden dan Ibu Negara. Mungkin ini pemandangan pertama kali menyaksikan seorang Ibu Negara  membawa kamera sendiri. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan dalam benak seorang Ibu Negara  sampai  merasa perlu memotret sendiri. Berkali-kali dia mengangkat kamera bersama penyanggahnya untuk membidik obyek. Bisa saja sang Ibu Negara memiliki hobi, tetapi pada sebuah acara yang sangat protokoler, banyak orang terpaksa mengesampingkan keingingan pribadinya. Karena penyaluran hobi ada waktu dan tempatnya yang pas. Melihat mimik bapak Presiden, saya merasa  agak terganggu dengan aktivitas ini. Kalau benar maka  saya rasa momentum penyaluran hobi ini tidak cocok tempat dan waktunya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s