LUTI DAN LUTI MURI

Luti dalam bahasa Nagekeo artinya mengajak. Pemakaian kata ini hanya untuk mengajak singgah dan bermalam.  Sedangkan untuk mengajak dalam arti yang lebih umum digunakan kata lisi (papa lisi). Pada masa sebelum ada transportasi dengan kendaraan roda empat, orang bepergian selalu dengan jalan kaki. Dalam perjalanan,  orang Nagekeo umumnya beristirahat dengan singgah di rumah kerabat untuk minum air. Bila waktu terlalu sore, sementara perjalanan masih jauh tuan rumah mengajak bermalam (luti). Walau waktu masih siang, sang tamu diajak untuk bermalam sebagai pelepas kangen karena lama tak bertemu.

Ada satu tradisi orang Nagekeo yang disebut luti muri. Luti muri artinya  mempertahankan dalam keadaan hidup.  Bila seorang yang sudah lama tak pernah berkunjung ke suatu kampung, maka ada beberapa keluarga ingin mengundang mampir. Sebagai penghormatan pada tamu, setiap rumah menyiapkan makan bersama. Menurut adat istiadat setempat ayam atau babi disembelih pada saat tamu tiba di rumah. Ini sebagai bukti penghormatan khusus. Juga ini merupakan pernyataan bahwa daging yang dimakan berasal dari hewan ternak yang segar dan disiapkan.  Karena sang tamu mungkin sudah makan di rumah sebelumnya, maka sang tamu hanya merokok dan minum.  Kalau memang terpaksa  makan , maka akan disiapkan makan bersama sederhana. Ada aturan adat dalam penyajian daging.  Babi biasanya diberikan kepada keluarga ine weta (saudari) yaitu pihak yang memberikan calon pengantin lelaki. Anjing diberikan kepada pihak ame nala (saudara lelaki)  pihak yang memberikan calon mempelai perempuan. Ayam adalah hewan yang dianggap umum bisa disajikan kepada siapa saja.  Babi atau anjing  yang seharusnya disembelih bisa diganti dengan ayam.  Karena sang tamu menolak untuk menyiapkan makan istimewa, maka babi tidak jadi disembelih. Babi akan dipertahankan supaya hidup. Ini yang disebut luti muri dalam bahasa Nagekeo.

Saya pernah dibuat malu. Ketika saya masih jadi siswa di Seminari Todabelu, adik-adik kelas Peto dan Lipus  berkunjung ke rumah. Pada malam hari tanta saya mengajak (lisi) untuk berkunjung ke rumah kakak lelaki mama (om saya). Habis santai dan mandi kami datang ke rumah om. Sudah menjadi tradisi seorang om akan membunuh babi untuk menghormati keponakannya. Saya sempat mendengar suara keras babi yang diikat kakinya.

Ketika acara makan malam tiba, kami disajikan nasi sama lauk kerang  laut. Suatu sajian paling sederhana. Saya agak kecewa di hadapan teman-teman. Ketika makanan disajikan, om membuka pembicaraan. “Tadi kami tangkap babi, tapi nanti dibawa saja ke rumah.” Rupanya om saya mengharapkan bapak saya (iparnya) ikut kami ke rumahnya dan makan malam bersama. Tetapi karena bapak tidak datang, maka biarkan babi disembelih di rumah kami saja. Malam itu saya menikmati makan malam sambil memendam perasaan sangat kecewa.Saya menggerutu dan meluapkan rasa kesal pada bapak saya. Om ternyata hanya menghormati bapak demi imbalan adat (tu’a eja).

Babi atau ayam yang seharusnya disembelih untuk perjamuan dibiarkan hidup dan dibawa pulang ke rumah tamu  juga disebut luti muri. 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s