MENDORONG PELESTARIAN TRADISI TENUN IKAT NAGEKEO

Seorang ibu di Mauromba sedang ke Gereja

Kalau ada perubahan yang paling menonjol dan kasat mata di jalan-jalan di wilayah Ngada adalah cara berpakaian.  Kalau tahun 60-an Kaum ibu hanya mengenakan  selembar sarung diikatkan pada kedua bahu, dan itu saja yang dikenakan pada tubuh mereka tanpa dalaman kutang dan celana. Karena keterbatasan,maka kain itu jarang dicuci dan menghasilkan aroma tak sedap. Demikian juga kaum lelaki menyelimuti diri dengan kain hitam polos.  Dalam kedinginan mereka menyalami tamu dengan menyorongkan tangan dari bawah kain  sarung sambil menyingkap pangkal paha dan celana dalam.  Maka kini orang Bajawa di sepanjang jalan sudah berubah khas. Kebanyakan sudah berpakaian modern. Wanita sudah menggunakan rock dan blus serta bercelana panjang. Kalau ada yang mengenakan sarung, saya melihat baik laki-laki maupun wanita  mereka mengenakan sarung Nagekeo (ragi/duka wo’i)). Malah ada lelaki yang menyelimuti diri setelah bercelana panjang. Kain  yang dikenakan adalah tenun ikat Ende (Dawo Ende).

Tetap bersarung ikat (dawo) ketika di rumah menyirih..

Di daerah pesisir selatan, mulai dari Maumbawa sampai Nangaroro  sebahagian besar ibu-ibu mengenakan tenun ikat (Dawo Ende). Hampir setiap ibu memiliki kain tenun ikat “Dawo Ende”. Berdasarkan pengamatan saya, semua kain tenun ikat Dawo ini adalah produksi dari wilayah kabupaten Ende termasuk Pulau Ende.

Harus diakui bahwa tenun ikat memiliki peluang pasar yang lumayan besar. Pasar tenun ikat sangat potensil di wilayah Ngada dan Nagekeo, juga Ende dan Maumere. Nagekeo merupakan wilayah pulau Flores yang memiliki sentra-sentra tenun dengan cukup banyak tenaga trampil. Terbentang dari Nangaroro sampai Maukeo ada sejumlah penenun. Sebahagian besar mengerjakan tenun sulam (ragi) dengan sangat sedikit orang menenun dawo.  Kebanyakan penenun kain ikat hanya ibu-ibu yang masih memiliki turunan dari Ende dan Tonggo. Para penenun ikat tidak banyak lagi hanya satu dua orang ibu berusia di atas lima puluhan di Maukeo, Mauwaru, Mauponggo, Maunori, Maundai, Mauromba , Daja Pu’ukungu) dan Tonggo, Bade dan Pombo.

Ibu-ibu di Keo Tengah bersarung tenun ikat (dawo ende))

Para penenun tenunan sulam (ragi atau duka wo’i) sangat banyak. Seperti yang terdapat di wilayah Keo Tengah, lebih dari 30 penenun aktif, yang melakukan kegiatan di rumah-rumah. Untuk melestarikan ketrampilan tenun ikat pihak perindustrian kabupaten harus mencari kiat-kiat khusus. Usaha-usaha ektra bisa dilakukan dengan membentuk kelompok tenun dengan dukungan dana pembinaan. Atau bisa saja seperti pemerintah kabupaten Nagekeo pernah mengirimkan warganya belajar bikin kripik jagung, pemerintah bisa mengirim sejumlah tenaga untuk belajar di perusahaan industri tenun ikat di Jepara atau Kediri. Atau yang lebih sederhana menggunakan tenaga trampil lokal membuka kursus ikat. Kita tidak bisa tunggu sampai kaum ibu super trampil ini termakan usia sia-sia.  Pengiriman tenaga ke Jepara bisa dilakukan dengan mudah. Mereka bisa belajar bekerja sambil menikmati upah. Sekembalinya ke kampung halaman  mereka tidak saja belajar mengikat dan mewarnai benang, tetapi mereka memiliki ketrampilan menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).  Untuk itu pemerintah bisa mengirim tenaga kerja lelaki agar bisa mendapat ketrampilan memperbaiki alat tenun dan wanita juga belajar mengikat benang, mencelup dan mewarnai serta menenun. Di daerah Troso, Jepara para penenun sebahagiannya terdiri dari kaum lelaki. PT. Ramacraft (Iwan Tirta) pernah mempelopori tenun ATBM di Ende. Nagekeo bisa melakukan terobosan ini karena pasaran tenun ikat dawo Ende sangat menjanjikan. Ini merupakan salah satu terobosan alternatif pemberdayaan ekonomi rakyat kecil.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to MENDORONG PELESTARIAN TRADISI TENUN IKAT NAGEKEO

  1. fanny says:

    ya kalo bukan kita, siapa lagiyg mau melestarikannya.

  2. Tanagekeo says:

    @Fanny: Saya begitu yakin Nagekeo akan sangat dominan dalam industri kerajinan yang satu ini…

  3. engki says:

    begitulah tradisi orang kita ……………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s