JANTUNGKU DIOPERASI (1)

 Aku berusaha bertahan. Dada kiriku sakit tak tertahan. Saat itu aku sudah terbaring di tempat tidur  di ruang Unit Gawat Darurat. Dadaku telah dipenuhi tempelan lebih dari sepuluh kup untuk memonitor  pacu jantungku. Saluran oksigen terpasang ke hidungku. Lengan kiri sudah tertancap jarum infuse cairan putih.  Pergelangan kaki kiriku terikat alat pengukur tensi. Sebuah monitor memperlihatkan  grafik gerakan jantungku. Saya bisa melihatnya  pada bayangan kaca jendela.

Berita bahwa saya mendapat serangan jantung  sudah membuat semua adik-adik saya panik. Air mata mereka tak tertahan. Dalam waktu kurang dari dua jam, semua adik-adikku sudah berada dalam ruang UGD. Kedua anak-anak  juga sudah berada lebih awal. Seorang anak saya bersama isteri mendampingi saya sejak dari rumah.Pada Jumat tanggal 15 April 2011 setelah mengikuti acara Jalan Salib, Misa (Jam 17.00 WIB) dan sedikit waktu berdoa di gua Maria, saya dan istri kembali ke rumah. Begitu tiba di rumah saya mendapat serangan rasa sakit tak tertahankan pada bagian dada kiri. Dimulai dengan rasa dingin di belakang tengkukku. Sakit…sakit sekali.. ini serius kataku kepada istriku. Seorang iparku yang bekerja di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita segera ditelpon. Dia pun menginstruksikan agar saya segera di bawah ke Rumah Sakit Harapan Kita.  Tetapi saya memutuskan untuk mencari rumah sakit jantung terdekat, Binawaluya (cardiac center) di Jl. TB. Simatupang tak jauh dari rumah. Jalan menuju rumah sakit sedekat itu seperti melewati waktu yang sangat lama dan menyusahkan. Saya terus mengerang rasa sakit. Anak saya tidak bisa memacu kendaraan lebih cepat. Semua jalan sesak dan sempit. Terlalu pelan. Kedua tangan saya menjadi sangat dingin. Ketika saya menyorongkan tangan saya pada istri yang duduk di bangku depan, dia menjadi tambah panik, meneteskan air mata sambil terus berdoa.

Aku menyaksikan mereka mencintaiku. Mereka menangis pada saat aku sadar. Ketika saya tiba di ruang UGD, dokter  memasang beberapa alat untuk memeriksakan keadaanku. “Aduh… “ kata dokter. Istriku dipanggil. Tidak ada pilihan, harus dioperasi. Istriku segera kembali dari konsultasi dengan dokter, tak tega melihat tubuh saya penuh peralatan kedokteran. Dia meneteskan air mata. Saya berkata pelan dan mengatakan tenang….

Istriku tidak bisa tenang. Rumah sakit meminta uang muka Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah). Di tangannya hanya ada Rp. Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Malam itu harus ada uang sebesar itu. Istri saya kalut. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Untuk segera mengambil tindakan dokter, istriku harus membubuhkan tanda tangan persetujuan operasi. Istriku dalam kekalutan menandatanganinya.  Akhirnya malam itu bisa juga mendapatkan uang kontan sejumlah yang diperlukan. Kartu kredit teman seorang anak saya digunakan, dan juga salah satu kredit seorang anakku ditambah uang di tangan istriku uang muka terbayarkan.  Aku akhirnya diperkenankan masuk ruang operasi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s