JANTUNGKU DIOPERASI (2)

Jumat malam tanggal 15 April 2011 . Malam semakin larut. Adik-adikku sudah berkumpul. Saya terus menahan rasa sakit. Malam itu adik ipar saya yang bekerja di Rumah Sakit Harapan Kita telah tiba. Sebelumnya dia sudah menghubungi dokter ahli di rumah sakit Binawaluya. Semua dokter termasuk dokter kepala, pemilik rumah sakit segera tahu adik ipar saya.  Selain Pasokan oksigen dan cairan melalui jarum di pergelangan kiriku, saya diberi 5 tablet yang ditelan sekali gus. Kemudian satu tablet disusruh di isap dengan ditempatkan di bawah lidah. Tablet-tablet itu gunanya untuk mengencerkan darah.

Giliran saya dioperasi. Adik-adik yang sedang berpencar karena tak tega melihat kondisiku diminta merapat. Dengan linangan air mata keluarga besarku melakukan doa bersama. Seorang adik yang paling tua dari adik-adik saya memimpin doa. Saya mengatupkan tangan kanan pada dadaku. Berkali-kali saya melakukan gerakan tanda salib dengan tangan kananku yang bebas ini. Tuhan…Tuhan… itu saja yang kuucapkan. Tangan kiri saya terganjal jarum infuse. Doa yang terbata-bata itu selesai. Adik-adikku bersama-sama mengangkat saya dan pindahkan ke tempat tidur berbentuk  khusus yang dipakai menuju ruang operasi. Seorang adik memegang tangan kananku dan mengatakan:” Kak tidak apa-apa”. Saya kuat didampingi anggota keluarga besarku dan dua pasang suami istri teman dekat tetanggaku selingkungan St. Yoseph.

Saya tidak ingat jam berapa saya tiba di rumah sakit. Tetapi ketika saya memasuki ruang operasi jam menunjukkan pukul 12.00 WIB atau pukul 0.00 Ada persiapan sekitar 10 menit. Kegiatan operasi mulai jam 12.10 tengah malam. Saya ingat karena saya betul memperhatikan jam dinding yang tergantung persis di depan agak ke kanan meja operasi.

Adik iparku terus mendampingi saya sampai ruang operasi. Dia mendapat kemudahan karena ternyata dokter bedah ahli adalah temannya. Dia terus memonitor saya dari ruang terpisah melalui kaca. Saya dipindahkan ke meja operasi. Lengan kanan saya dibiarkan bersandar pada tumpuan meja operasi. Uap dingin obat bius mengenai lengan kanan saya. Sejuk sekali. Ruang menjadi redup. Hanya ada penerangan di beberapa titik kerja dokter. Dua buah monitor berada di depan kiri saya pada jarak pandang. Seorang berada pada kiri saya mengatur peralatan scan untuk jantung saya. Seorang lagi sebelah kanan memegang pergelangan. Terasa ada yang menyelimuti lengan. Ada rasa sakit ketika urat nadi pada pergelangan kanan dipotong. Saya diminta bersabar menahan rasa sakit.  Selebihnya saya diam sambil menahan rasa sakit.

Ketika saya sedikit mengangkat kepala, saya melihat  gambar jantung saya pada monitor. Seperti ada kawat yang bergerak pada jantung saya. Saya letakkan lagi kepalaku. Saya tutup mata. Takut bergerak. Bisa saja robek daging jantungku. Ada rasa perih luar biasa ketika ada alat melewati nadiku menembus jantung. Semakin sakit, semakin rapat kututup mataku. Aku berdoa….Aku tak lagi berdoa menurut rumus. Doa adalah kata-kataku yang kuucapkan seolah berhadapan langsung kepadaNYa. Tuhan berikan saya waktu untuk hidup demi keluargaku, demi adik-adik saya. Mereka sungguh mengasihiku dan menangisi aku..Beri saya kesempatan untuk berbuat baik bagi sesamaku.

Sabar ya.. kata dokter setiap kali saya memberikan sinyal rasa sakit. Aktivitas dokter terus berjalan. Beberapa kali meja operasi bergerak. Alat scan beberapa kali bergerak pindah merapat pada sisi dada saya bagian kiri. Saya terkadang melihat perubahan sisi pandang jantungku. Ada rasa ngeri untuk bergerak. Saya berusaha tenang dalam doa sambil menahan rasa sakit.  Tepat jam 0.50 atau jam satu kurang sepuluh menit seorang bergerak agak menjauh dari kaki kanan saya dan mengeluarkan ucapan:”Congaratulation”. Orang yang berada di ruang itu pun saling mengucapkan selamat. Operassi selesai. Lampu dinyalakan saya mengucapkan terima kasih dokter, terima kasih Tuhan.

Semua saudara dan anggota keluarga serta teman saya menunggu. Saya keluar dari ruang operasi. Mereka lega. Saya memasuki ruang istirahat. Semua kamar penuh kecuali satu ruang kosong di kelas tiga. Saya tidur disana. Malam itu saya tidur bersama semua pasien jantung. Malam itu malam penuh dengkur. Saya tak bisa tidur. Tangan kiri diikat jarum infuse pada pergelangannya, tangan kanan bekas potongan nadi dikat sangat keras. Saya diminta tak boleh menggerakkan pergelangan selama 7 jam. Kaki kiri terikat alat monitor tekanan darah. Dadaku nyerih penuh tempelan lempengan alat pengontrol pacu jantung. Hidungku masih terpasang saluran oksigen.

Malam itu aku tak bisa tidur. Malam ini memang  gaduh dengan bunyi dengkur bersahutan yang menggangu ngantuk.  Aku minta pindah ruang khusus tetapi semua penuh. Air mata saya tak tertahan mengalir begitu saja tanpa kendali membasahi pipiku. Terima kasih Tuhan masih memberikan saya kesempatan hidup setelah satu cincin menempel pada organ vital kehidupan ciptaanNya.  Syukur pada Tuhan..Deo Gratias.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to JANTUNGKU DIOPERASI (2)

  1. Rosa says:

    Selamat sore om, wah saya ketinggalan banyak nih..saya doakan cepat sembuh om..semoga sehat lagi dan tetap semangat..Tuhan memberkati selalu..

  2. Tanagekeo says:

    Rosa, terima kasih. Saya juga terus mengunjungi blogmu. Semakin seru saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s