WARNA HIDUP TEMBOK PUTIH

Secara ekonomi apa yang kurang teman saya ini. Memiliki sebuah rumah luas bertingkat dua. Punya tiga orang anak putri yang cantik. Dia juga punya beberapa rumah kontrakan untuk menghasilkan uang tambahan yang cukup bagi kebutuhan keluarga. Dan dia juga bekerja di sebuah perusahaan ternama serta berpenghasilan cukup. Dari segi rohani sahabatku ini merupakan orang yang sangat religius.

Saya pernah berhutang padanya sangat lama.  Ketika saya membayar kembali, dia bercerita bahwa istrinya sudah diberitahukan kalau saya adalah orang yang pernah jadi tempat curhat di kala susah. Saya dianggap orang yang memahaminya dengan baik. Memang dia mengawali hidupnya di Jakarta penuh kesulitan. Tempaan palu kekerasan hidup kota membuat dia menjadi sosok pribadi yang ulet dan tahan banting. Ia sudah memberitahukan juga pada istrinya agar sebaiknya uang yang dipinjamkan kepada saya tidak usah dipikirkan lagi. Uang itu akhirnya memang dikembalikan dan diterimanya. Saya merasa lebih nyaman. Lepas dari beban salah satu hutang. Ada kewajiban yang terselesaikan.

Suatu saat saya berkunjung ke rumahnya, halaman cukup luas dengan garasi mobil yang tidak kecil. Ketika itu dia sedang memasang pompa air dan penggalian sumur menggunakan mesin. Dia berapi-api cerita tentang cara terbaik memperoleh air yang jernih dan mengusulkan caranya kepadaku.  Saya mengangguk sambil pikir besarnya biaya bagi sakuku yang rata alias kempes tak berisi. Pinjaman uangnya saja makan waktu beberapa tahun baru dikembalikan. Bagaimana membiaya mesin penggali sumur.

Rumah dua tingkat dengan lantai bawah berlangit-langit tinggi sesuatu yang baik untuk sirkulasi udara. Kami berdua duduk sambil menikmati kopi sore itu. Tembok dalam rumah bercat putih bersih. Dimana-mana tidak ada satu gantungan atau dekorasi apa pun.  Saya pernah bekerja di perusahaan interior. Bagi saya terlalu hampa, kosong dan kaku.  Sebagai orang cerdas dan religius dia membaca pikiran saya. Sebelum saya memberikan komentar, “Saya tidak mau ada gantungan apa pun pada tembok rumah. Saya tidak suka hal-hal seperti itu.   Saya mau  tembok bersih”, katanya.

Teman saya dia orang yang sangat disiplin. Di mata saya sebuah disiplin yang kaku. Kata orang biara  kepatuhan cadaver (mayat ), sebuah ketaatan robotis. Sukses selalu dipandang dari bagaimana seorang mengelola diri untuk mencapai  penghasilan secara ekonomi. Bila tidak dia bilang: ” Kau ini mungkin orang Flores yang paling bodoh.”  Tahap-tahap menuju pencapaian hasil secara ekonomi tentu sesuatu yang seharusnya. Tetapi jangan itu yang menjadi satu-satunya ukuran. Bila hanya itu yang menjadi ukuran, maka seorang menjadi kerdil  secara sosial. Mengukur  kecil, rendah, bodoh bagi orang yang kurang beruntung. Diri pribadi tenggelam dalam hidup penuh rencana ambisius yang tak pernah henti. Sebuah kehidupan yang penuh stress, tegang dan kaku. Kehidupan yang ibarat pisau bermata dua tajam menilai dan beraktivitas tanpa henti pada satu sisi, sisi lain tajam mengiris kulit dan bah kan leher, menaikkan emosi dan menciptakan ketegangan  yang memecah pembuluh darah di otak.

Teman saya sudah lebih dahulu menghadapi yang Maha Kuasa. Dia dipanggil Tuhan pada saat sedang berbagi pengetahuan dan pengalaman pribadi.  Semuanya membuka mata kita paling tidak bagiku, bahwa hidup itu harus berimbang dan berwarna. Isilah tembok rumah dengan sebuah gambar yang menyejukkan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s