PERADABAN BUKA ALAS KAKI

Ketika saya pertama kali datang ke Jakarta, saya bermalam di Jl. Matraman Raya 125, sebuah rumah singgah Serikat Sabda Allah, sebuah kongregasi imam misionaris. Masuk rumah dan kamar memakai sepatu itu merupakan kebiasaan bawaan dari pulau Flores. Tidak pernah ada yang buka sepatu atau sandal ketika memasuki rumah atau gereja. Setelah beberapa hari di Matraman Raya, saya pindah ke Wisma Didacus, sebuah asrama para frater kongregasi St. Fransiskus  (OFM). Sebagai orang kampung yang baru masuk kota, saya  selalu jaga agar sepatu mengkilat. Di muka kamar seorang frater saya bertamu ada tulisan buka sepatu dan sandal. Saya tetap saja buta dan memasuki ruangan itu bersepatu. Sepatu kulit buatan ahli sepatu nomor satu berasal dari Jerman di Ende.  Mutu sepatu tak diragukan, terbuat kulit asli  dengan jahitan sangat rapih. Modelnya bermoncong seperti bemo. Model padanan sekarang adalah sepatu pabrik gayaa tukang besi yang memiliki sanggahan besi pada bagian depan. Lama-lama saya patuhi kebiasaan kamar tetangga. Buka sepatu sebelum masuk kamar.

Kebiasaan buka sepatu atau sandal merupakan peradaban baru yang saya pelajari setelah di Jakarta. Istri saya tidak pernah melepaskan sandal dalam rumah. Dia selalu memakai sandal. Mungkin karena sudah jadi budaya, maka tak ada masalah, dia tahu membedakan sandal dalam rumah dan sandal di luar ruangan. Pada saat udara dingin, lantai rumah tidak memberikan rasa nyaman pada kaki. Saya juga ingin memakai alas kaki. Bawaan kebiasaan kampung membuat saya terkadang kurang sadar untuk melepaskan atau mengganti sandal sesuai dengan kebutuhan.

Lantai rumah kami selalu kejatuhan butir-butir kecil dari loteng rumah. Benda-benda ini adalah produksi dari ngengat pada balok-balok penyambung penutup loteng atau langit-langit ruangan. Maklum karena keterbatasan keuangan rumah tak pernah mendapat sentuhan akhir yang sempurna, tidak ada finishing yang sempurna. Seharusnya antara sambungan papan-papan langit-langit diberi lis atau penutup. Selain memberi sentuhan dekoratif, juga mempunyai fungsi menutupi jatuhnya bulir-bulir hasil pelapukan kayu atau debu dari loteng rumah. Di sela-sela pada lempengan penutup dan tembok yang tidak ditutup sering jadi tempat sarang cecak. Makhluk melata ini juga menjatuhkan kotoran yang beraroma kurang sedap ke lantai.

Pagi hari ketika bangun istri saya menanggapi bulir-bulir dengan mata dan lalu menyapunya. Sementara saya yang tidak memakai sandal langsung merasakan benda-benda halus, yang mengotorkan itu dengan kaki telanjang saya. Ada beda antara saya dan istri yang selalu beralas kaki. Dalam ketelanjangan, tanpa atribut yang menempel pada telapak kaki saya langsung merasa juga pada saat hari masih gelap. Kami memiliki kepekaan yang berbeda dengan dan tanpa alas kaki atau atribut tambahan yang menempel pada anggota tubuh.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s