POTRET RUMAH BALI

Selama ini saya hanya numpang lewat pulau Bali. Kala ingin pulang ke kampung kami Mauromba, Flores pesawat pasti singgah di Denpasar sebelum ke Ende atau Maumere. Ketika bekerja di sebuah perusahaan dekorasi interior, saya pernah masuk beberapa hotel ternama di pulau Dewata. Suatu kali saya pernah menginap di hotel di pulau Bali karena pesawat terbang mengalami gangguan teknis. Saya juga pernah mengendarai mobil sendirian dari Jakarta sampai pulau Flores. Otomatis saya melewati pulau Bali. Bali yang saya kenal cuma sambil lewat. Bersama istri dan anak sempat dua malam menginap di Bali setelah menjenguk orang tua sambil memperkenalkan istri. Kalau memang ada keperluan ke Bali, pasti paling lama dua malam dan setelah menyelesaikan urusan segera kembali ke Jakarta.

Pada medio Januari saya berkunjung ke Bali. Seorang kerabat membantu menyiapkan sebuah kendaraan sewa. Setelah sedikit urusan di Denpasar, saya menuju Singaraja. Di Singaraja saya sempat menginap dan itu untuk pertama kali saya menginap di rumah orang Bali. Satu minggu saya menikmati kebaikan dan kemurahan hati keluarga Bali, yang juga rekan usaha saya. Selebihnya selama tiga minggu saya berpindah-pindah mondok di guesthouse di pantai Lovina.

Ada yang sangat saya kagumi adalah hampir semua tembok pagar halaman gedung di Bali penuh ukiran. Di beberapa tempat saya jumpai tembok pagar lebih mahal dari pada bangunan yang dipagari. Kalau ada gambaran bahwa raja selalu dikelilingi dengan kemewahan, tidak demikian dengan seorang raja Buleleng. Dari orang-orang yang berada di sekitar rumah raja, saya mendapat kisah kesahajaan dan keluhuran sikap sang raja. Dia sungguh raja yang merakyat.

Saya memotret  rumah bangsawan, rumah orang sederhana dan rumah raja  Buleleng  Ki Barak Panji Sakti, yang  sangat  sederhana layaknya tempat  para pertapa.

 

Rumah orang sederhana

Rumah kediaman Ki Barak Panji Sakti, raja Buleleng

Rumah Kediaman Ki Barak Panji Sakti, Raja Buleleng

Tempat Tidur Sang Raja

Tembok rumah kediaman Ki Barak Panji Sakti dan kendi air dari tembikar di lantai masih tetap dipertahankan

Oranamen dinding rumah Ningrat Bali

Pendopo panjang dan masih ada bangunan-bangunan tambahan lainnya

Foto: Vitalis Ranggawea

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s