SELESAI DAN SAYA TIDAK BISA BERKOMUNIKASI

Laptop dinyalakan. Saya melihat jam di sudut  kanan bawah. Pukul 3.56 pagi hari. Suara orang  berdoa di mesjid sekitar rumah terdengar sayup. Internet gagal dinyalakan. Di sudut kiri bawah ada tulisan merah selesai. Oh, ya  hari Jumat , tanggal 1 April  2011 saya belum membayar telepon termasuk langganan speedy.

Kami merasa nyaman saja walau lalai membayar telepon  rumah, karena komunikasi tidak pernah masalah. Masing-masing mempunyai telepon genggam alias HP, malah ada yang memiliki dua nomor. Istri saya masih di dalam nyenyaknya. Saya sudah berada di ruang kerja. Di ruang kecil ini saya merasa jadi penjara. Tidak bisa leluasa bertemu sahabat dan menambah wawasan dengan bersilancar di liukan gelombang indah dunia maya. Melalui dunia maya, dunia serasa begitu kecil. Semua sahabat seperti sedang berada di sebuah kota. Kedekatan dengan kerabat di belahan bumi lain serasa masih dalam sebuah penginapan yang sama.

Kemarin sore jam 6.45 saya masih berkomunikasi dengan saudara yang tinggal di Sao Paulo, Brasil. Di Brasil pukul 8 lewat. Karena kesibukan, sudah lama kami tidak berbasa-basi. Tiba-tiba saya lihat namanya muncul online di situs Yahoo. Kami sama-sama punya e-mail address di Yahoo. Saya langsung menulis hallo Poli, apa kabar. Dan seterus kami saling membalas ucapan, yang semuanya dalam bahasa daerah. Suasana komunikasi dalam bahasa daerah menambah hangat percakapan kami. Saudara saya memberikan dukungan dengan menegaskan bahwa sukses  bukan ditentukan oleh  harta, tetapi yang istimewa membesarkan, menghantarkan anak menyelesaikan pendidikan dengan baik. Dan teristimewa membuat keluarga tetap baik dalam kehidupan beriman. Saya merasa kotbahnya menyentuh. Menyinggung tentang harta. Keuangan saya kebetulan lagi seret se seret-seretnya. Ini hari-hari paceklik karena menjelang akhir bulan. Maklum gajian kami jatuh pada setiap tanggal 5.  Walau demikian seharus tidak sesulit hari ini.  Perjalanan ke Bali dan Jogya sedikit banyak menguras isi kantong. Maklum orang Indonesia tidak seperti orang Negara maju, yang semua perjalanan wisata sudah dipersiapkan minimal setahun.

Ketika saya berkelana di pantai Lovina, Buleleng saya berjumpa dengan banyak wistawan manca Negara. Yang menarik bagi saya adalah tukang jamu dan sopir taksi dari Inggeris, tukang sepeda dari Kanada mereka berlibur di Bali. Profesi yang di negeri wayang Mahabrata termasuk terpinggirkan. Tukang jamu Indonesia sampai saat ini hanya jadi etalase saja. Mereka ibarat tempat tumpukan jamu yang penuh bau ramuan. Sekali setahun dibersihkan dan disegarkan udaranya.  Mereka di pulangkan ke desanya dengan mudik gratis.  Sekelas tukang jamu ada para dukun yang punya pelanggan orang sekolahan. Tetapi mereka termasuk sekelas psikopat yang hanya tahu mengibuli. Mereka mendoakan agar orang jadi kaya. Mudah rejekinya. Sementara mereka tetap dalam bau asap dupa menyengat dengan tangan dekil, berjenggot dibalut pakaian yang berkesan kusam seperti makhluk yang baru keluar dari gua. Profesi sopir taksi, yang hanya mengejar setoran dan menyisakan sedikit uang buat keluarga. Yang tersisa adalah cerita penuh derita.

Selesai, demikian catatan merah di laptop saya. Jadilah saya offline. Saya lagi asyik-asyik punya jaringan komunikasi dengan beberapa sahabat manca Negara. Pada malam atau dini hari saya masih bisa berhubungan melalui e-mail atau Skype. Semuanya bisa dilakukan dari rumah.

Kenyamanan berkomunikasi pasti agak terganggu. Saya harus pindah tempat duduk dan membaca buku. Saya harus selesaikan dua buah buku. The Road to Peace karya Henri Nouwen dan Jalan Pengharapan tulisan Kardinal Francis Xavier Nguyen Van Thuan.  Beberapa tulisan Henri Nouwen sudah saya baca dan menarik. Buku Jalan Pengharapan adalah merupakan catatan pesanan yang ditulis setiap malam pada lembaran kertas bekas  kemudian dititip melalui seorang anak yang menjumpai Sang Uskup yang terpenjara karena imannya ,setiap pagi ketika matahari masih gelap.  Pesan-pesan ini disalin ulang dan dibagikan pada umatnya. Pesan uskup kepada umatnya  ini bernomor urut sampai 1001 mengingatkan kita akan cerita seribu satu malam.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s