INSPIRASI SANDAL JEPIT

Hari minggu lalu saya beli dua buku dari penerbitan Obor.  Salah satu buku telah selesai dibaca dan sudah kusontek  judulnya di dalam posting blog saya yaitu Ketika Semua Jalan Telah Tertutup sebelum membacanya.  Satu lagi berjudul Sandal Jepit Gereja  yang tidak kalah menarik. Pengalaman  hidup seorang dalam posisi paling bawah dalam  hirarki gereja Katolik.  Posisinya sama dengan Ketua Rukun Tetangga alias pak RT. Kalau soal urusan kerapihan hirarki selain militer, maka gereja Katolik jelas nomor wahid.  Roma Locuta causa finita  est,  semuanya dengar  apa kata  Roma (Paus).

Ketua Lingkungan posisinya paling rendah. Tapi jangan dianggap sebelah mata.  Saya selalu bilang sama orang yang datang meminta surat keterangan nikah, bahwa saya bukan RT. Hanya urusan administrasi. Ketua Lingkungan adalah saksi bahwa segala sesuatu benar. Saya pernah tidak mau mengeluarkan surat keterangan nikah.  Dia anak tetangga dan teman baik saya. Teman yang satu ini kritis bukan main gaya anak asrama seminari.  Anaknya ingin nikah di gereja Kristen pada hari Paskah. Sang anak putri menggerutu sambil mengatakan bahwa dia sebenarnya bisa saja melakukan itu tanpa surat dari ketua lingkungan.  Sampai sekarang sudah lebih dari tiga tahun, anak ini belum juga menikah. Kalau ada surat keterangan yang keluar bukan karena uang. Dan  memang ini tidak terkait dengan uang. Ini adalah pelayanan murni.  Ketika kami sibuk mengurus orang meninggal, seorang tetangga saya  yang beragama  Islam berbisik pasti ada envelop (uang). Maklum dia tidak tahu tugas dan tanggung jawab  jabatan yang satu ini.

Sebentar lagi saya selesai membaca Sandal Jepit Gereja. Saya angkat  topi tinggi salut pada penulis. Yang ditulisnya adalah hal-hal yang dialaminya  sebagai seorang ketua lingkungan. Jabatan yang oleh banyak orang dihindari ini dilakukannya dengan penuh sukacita dan kebanggaan. Saya banyak kali tersenyum dibuatnya. Saya banding-bandingkan dengan apa yang telah terjadi di tempat kami, lingkungan St. Yoseph semasa saya menjadi ketua lingkungan selama 7 tahun.  Dia dengan bangganya minta temannya memanggilnya Keling (ketua lingkungan) sambil canda. Beruntung nasibku karena  istilah itu tidak populer di lingkungan kami. Kalau tidak, saya kira akan ada yang  menyapaku Keling. Ini memperkuat cibiran atas kulit wajah ku. Walau kadang-kadang saya juga menerima dengan nyaman-nyman saja kalau dipanggil si hitam oleh tetangga baik saya. Dan saya tentu saja menghargai warna kulit saya yang matang ini. Ketika Tuhan mencipta dari tanah liat, saya termasuk orang yang mendapat kesempatan pertama dan lebih lama masuk dapur api pembakaran.

Kwalitas adalah hasil bandingan. Membaca  buku tulisan Anang, Y.B. membuat saya sadar diri bahwa apa yang telah saya lakukan tidak sebaik penulis buku ini. Dia menikmati posisinya. Dia bagaikan keledai jinak  tunggangan Yesus melintasi anak-anak Hibrani dengan daun palem di tangan. Sementara aku sering bagai kuda liar yang tidak merasa nyaman menerima beban di punggungku. Kalau ibarat sandal atau sepatu dia adalah sandal atau sepatu yang paling nyaman dipakai dan membuat tuannya bersukacita. Saya mungkin menjadi sandal keras atau sepatu tak pas dan berkerikil muat egoisme pribadi saya dan kurang memberi rasa nyaman bagi pemakainya yaitu umat yang hidup bersamaku.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s