PAWE PAWE KEO NAGE SOO PAWE

Senin 21 Maret 2011, Didimus  orang sedesaku datang ke rumah.Teman saya ini dulu dipanggil ame goo susu, karena pernah jadi anak manja yang terus menyusu.Ame goo (laki), ine goo (wanita), ame tolo (laki) atau ine tolo (wanita) itu panggilan umum untuk anak-anak yang tidak disebutkan namanya. Nama di dalam budaya Nagekeo selalu diambil dari nama anggota keluarga yang sudah meninggal. Ketika nama yang dihidupkan adalah dari seorang yang dituakan dan dihormati, maka orang sungkan menyebut nama itu. Ame goo sudah bertahun-tahun dia tidak pernah datang ke rumah kami.  Sedikit cerita tentang keluarga dan pekerjaan, kami bicara tentang kampung halaman. Desa kami Witurombau. Nama desa kami merupakan gabungan dari tiga kampung yaitu Witu, Romba dan Ua. Witu (Witu dan Mauara), Romba (Romba Wawo, Romba Wena, Nuamuri) serta Ua.

Ketika kami berbicara tentang kampung halaman, saya membuka laptop dan memperlihat foto dokumentasi perjalanan saya di Nagekeo termasuk kampung dan desa kami. Kata orang foto diri selalu punya warna sendiri, karena itu dilihat lagi dan lagi. Demikian saya memperlakukan foto-foto kampung halaman saya. Saya melihat kembali berulang-ulang. Ada keindahan, karena memang banyak tempat indah di Flores, termasuk di Nagekeo. Selain indah, foto kampung halaman membawa nostalgia. Bahagian masa lalu yang memberi andil pada perjalanan hidup sendiri. Kebahagiaan karena semuanya selalu membuat rindu untuk kembali. Sebaik apa pun di tanah rantau, tanah tumpah darah selalu lebih akrab dan nyaman.

Kami bercerita, ya sebenarnya saya yang bercerita tentang kampung halaman. Saya bicara tentang keadaan  kampung kami hari ini. Kalau dulu hanya diterangi lampu minyak tanah dalam botol tinta atau kaleng susu, kini sudah ada listrik. Kalau dulu orang desa kami harus berjalan kaki atau berperahu ke kota, kini sudah ada sarana transportasi kendaraan roda empat. Kalau dulu orang tua bersurat dan menitipkan pada pastor paroki, kini sudah komunikasi langsung via telepon genggam atau pesan tertulis (SMS). Banyak hal sudah berubah.

Hasil bumi utama desa kami dulu adalah kelapa, yang dijadikan kopra dan minyak goreng.  Cara mengolah kopra, kalau dulu orang mengupas, membelah dan mengeringkan, kemudian melepaskan daging dari batoknya,maka kini orang langsung membelah kelapa berkulit langsung dijemur. Kelapa sekarang bertumbuh lebih subur dan berbuah lebat.

Hasil bumi kampung kami sekarang bertambah, sudah ada vanili, cengkeh, jambu mede dan kakao di samping kelapa. Masih ada banyak hasil pertanian lainnya, seperti pisang, nanas, mangga. Sayang tiga jenis produksi tanaman ini berkelebihan dan dijadikan pakan babi atau busuk sia-sia.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s