OMONG BESAR KANTONG KEMPIS

Kita ketemu sesudah sholat Jumat, demikian Kata seorang yang mengajak saya ketemu. Kami berjanji ketemu di Point Square di daerah Lebak Bulus. Penelpon ini sudah berkali-kali dalam dua bulan terakhir menjelaskan banyak hal tentang potensi yang dia miliki. Katanya dia memiliki akses ke sebuah sumber dana. Karena saya punya relasi dengan beberapa teman yang punya proyek dan sedang mencari dana, saya menanggapi positif ajakan bertemu.

Setelah saya nyasar ke sebuah square yang lain akhirnya saya sampai.  Partner saya sudah menunggu di sebuah restoran. Dia berpenamilan parlente. Muka segar mungkin baru basuh muka di toilet gedung. Berbaju lengan panjang biru. Apik sekali. Di salah satu kursi terdapat dua buah tas. Satu ransel dan satu lagi tas jinjing terbuka penuh dokumen.

Partner saya menjual kapasitas dirinya dalam kaitan dengan dana. Ada dana hibah, ada dana ad hoc, dan ada dana proyek berbentuk pinjaman atau kerja sama bagi hasil. Selain itu dia menawarkan ada dana bagi calon bupati dan gubernur. Hebat benar. Uang seperti begitu bertumpuk.

Teman bicara segera mengangkat daftar menu. Dia bertanya mau minum dan makan apa. Saya tahu isi dompet sendiri. Karena itu saya katakan saya sudah makan, karena memang saya baru dari rumah. Saya hanya pilih minuman teh hangat. Dia pesan makanan nasi sapo tahu seafood. Restoran Solaria, pembayaran dilakukan di depan. Giliran diminta pembayaran kami tidak punya uang kontan yang cukup. Saya punya sedikit uang di dompet. Dia ternyata tidak punya uang. Sambil menanggung malu, saya pergi ke ATM untuk menarik uang kontan. Pelayan dipanggil untuk menerima uang dan memesan makanan.

Pembicaraan kami dilanjutkan. Minat saya untuk mendengarkan mulai berkurang. Sikap kritis saya semakin tinggi.  Dia mengatakan sudah ada perusahaan yang sudah menggunakan dana mereka. Setengah basa basi saya menjawab semuanya.  Dalam hati kalau benar sudah ada yang berhasil, mengapa beli nasi saja tidak bisa. Keadaanya pasti sudah berobah. Dia masih saja naik angkot dan berjalan kaki.

Prinsipku adalah keseimbangan antara kerja keras dan menikmatinya. Bekerja bagai kuli makan minum bagai raja. Paling tidak hidup kita mencerminkan betapa keras kita bekerja dan memperoleh hasil. Hasil kerja nampak dalam kehidupan harian. Lalu apa yang saya lihat pada teman bicara saya. Akhir-akhir ini saya banyak berjumpa dengan orang sekelas teman bicara saya ini. Omong besar tetapi kantong kempis.

 

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s