MAKAN DI PINGGIR JALAN

Begitu sering tetangga saya mengajak untuk melakukan perjalanan bersama. Karena kami bukan anak baru gede, maka jalan bersama mungkin hanya sekedar makan-makan bersama.  Teman saya dan pasangannya sangat tahu tempat makan sederhana, murah dan enak. Dia merasa nyaman untuk duduk makan di tenda-tenda sederhana atau warung makan Tegal (Warteg).  Sebaliknya saya tidak terlalu nyaman makan di tenda-tenda.  Dengan menjadi anak asrama lebih dari 11 tahun, saya terbiasa makan, belajar dan tidur pada waktunya. Saya ingin makan di tempat tertutup atau makan masakan rumah, yang disediakan istri.  Istri saya sering mendapat hantaran makanan masakan tetangga, dan sebaliknya istri tetangga seperti berbalas pantun menerima hantaran kami.  Masakan rumah  lebih menyenangkan bagi saya.

Makan sambil jalan atau makan di tenda terpal hal biasa bagi orang kota. Hemat waktu, hemat biaya pula. Warung-warung makan sederhana,  secara higienis diragukan tetapi pangsa pasar besar luar biasa. Para pegawai berdasi, para pengacara, para jaksa dan hakim yang pada saat sidang bertoga hitam penuh wibawa, juga makan dari warung sederhana.  Saya pernah dibikin marah oleh isteri saya. Di kota Ende dia pingin makan baso di pinggir jalan. Saya menolaknya dan kembali ke hotel. Seorang keponakan saya akhirnya menemani dia makan baso.

Ketika saya mengikuti kursus bahasa Jerman tiga  hari setelah saya tiba di Jakarta, saya lihat teman satu kelas  membuka tas mengeluarkan kotak makan. Dia makan roti sendirian. Dia seorang isteri yang akan mengikuti suaminya belajar di Jerman. Belakangan saya tahu dia isteri seorang pejabat tinggi.  Seorang wanita teman kerja saya membeli gorengan untuk dimakan dalam kendaraan oplet. Itu pengalaman pertama penuh ketidaknyamanan makan dalam kendaraan umum sambil duduk berhadapan. Itu dilakukan disamping para penumpang lain.   Makan di bawah tenda saya lakukan pertama dipaksa oleh istri saya. Sebagai anak kelahiran Jakarta hal ini biasa.  Ketika anak kami masih kecil-kecil, isteri saya selalu mengajak makan di warung tenda pada malam hari. Tetapi dengan berjalannya waktu istri saya semakin paham itu tidak menyenangkan pasangannya.

 

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s