SUAKA AHMADIYAH

Saya warga Indonesia dan percaya pada Tuhan yang Esa, Pencipta dan Penyelenggara seluruh alam semesta. Saya juga yakin bahwa semua orang Indonesia pasti sama di depan Tuhan. Saya lebih yakin lagi kalau semua orang Indonesia tanpa beda suku, ras dan agamanya punya hak hidup yang sama.

Menghakimi dan menghukum orang lain secara adil hanya bisa dilakukan kalau kita berusaha menempatkan diri kita pada posisi yang dihakimi dan kena hukuman. Apa rasanya? Sebagai orang beriman saya coba berada dalam posisi saudara-saudara  penganut Ahmadiyah.  Mereka compatriotku. Mereka bagian dari kelompokku orang Indonesia. Berada dalam satu rumah bangsa, rumah Indonesia.  Tetapi rumahku tiba-tiba dibumihanguskan. Kemudian aku disuruh pergi dari tempatku berdiam. Kalau mau berdiam di tempat itu aku harus tidak boleh beraktivitas, ruang gerakku dipersempit.

Melalui televisi saya pernah menyaksikan para pencari pesugihan. Ketika di makam mereka melafalkan doa secara Islam. Begitu keluar dari pemakaman mereka menyetubuhi wanita atau lelaki yang dijumpai disekitar komplek. Begitu banyak paranormal yang berkomat kamit doa secara Islam. Yang mereka lakukan kalau perlu membunuh orang lain.  Upacara-upacara penyucian keris dan alat-alat yang dikeramatkan juga dengan doa secara Islam. Benda-benda itu dianggap memiliki gaib.  Pengusiran roh halus yang akrobatik penuh tipu muslihat ditayangkan juga di televisi. Tetapi keanehan ini tidak pernah dipersoalkan secara agama.

Kekerasan berkaitan dengan agama sudah menjadi biasa dan dibiarkan disini. Ada kelompok yang coba membumikan pemahaman doa dalam bahasa Arab ke dalam bahasa yang dipahami. Rumah mereka dihancurkan. Yang paling memilukan hati adalah kekerasan terhadap kelompok saudara sebangsaku orang Ahmadiyah. Tempat ibadah dan  rumah tinggal diserang. Peristiwa Cikeusik sebagai kulminasi segala tindakan kekejaman itu. Sampai ada jiwa yang melayang sia-sia. Semua bersuara dan bertindak. Ada yang membarakan api kebencian menjadi-jadi. Ada sebagian lain yang coba bersuara lemah meminta perhatian pemerintah.

Negara ini sepertinya mengarah ke sebuah Negara Federal. Bagaimana tidak konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia sepertinya tunduk pada Peraturan Daerah (PERDA). Muncul PERDA yang melarang kegiatan dan hak hidup Ahmadiyah. Tawaran sejuk dari Sri Sultan Jogyakarta. Bumi Jogyakarta adalah tanah air bagi semua orang, termasuk penganut Ahmadiyah.

Kemana kelompok Ahmadiyah di wilayah  Indonesia lainnya? Masihkan Indonesia tanah airnya? Lalu mengapa hak mereka dirampas ? Haruskah mereka menjadi manusia perahu seperti orang Vietnam? Atau mereka harus menyewa perahu sesama  bangsanya sendiri dan pergi ke negara lain? Mereka ditindas, dibatasi ruang geraknya dan dipersempit hak asasinya. Mereka dan anak-anak mereka ditindas.  Dimana tempat kelompok Ahmadiyah mencari suaka? Haruskan mereka mencari suaka? Pemerintah khususnya Presiden NKRI tentu tidak cukup dengan pernyataan keprihatinan. Hentikan kekejaman dan bubarkan kelompok radikal yang hanya menampilkan keangkuhan dan kekerasan. Agama adalah urusan batiniah dan pribadi. Agama tidak butuh pembela.  Yang dibela adalah hak hidup sesama yang ditindas. Dan kelompok Ahmadiyah, yang hak asasinya dirampas  harus dibela.

 

 

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s