MESU TA MENA

Ajal bisa datang kapan saja.  Ibarat pencuri, kematian tak ada yang tahu kapan datangnya. Andai saja orang tahu saat ajal tiba, maka kematian seperti pindah rumah. Semuanya perlu disiapkan.  Kalau lokasi rumah baru  agak jauh maka ada yang menghantar dan ada rasa sedih baik  bagi yang akan pindah dan juga  tetangga sekitarnya.

Mesu ta mena artinya sayang pada yang ada disana.  Maksudnya sayang pada isteri dan anak-anaknya yang ia tinggalkan di kampung sebelah. Mesu ta mena (sayang yang di sana…) diungkapkan seorang bapak dalam kondisi sangat sehat tetapi saat itu dia yakin hidupnya akan berakhir. Dia begitu yakin dia akan mati dan meninggalkan keluarga yang dia tinggalkan.

Kisah ini diceritakan oleh ayahnya saya pada kakak perempuan saya. Kakak saya sebulan berada di Jakarta dan selama dua minggu jadi tamu di rumah saya sebelum kembali ke Flores tanggal 7 Maret 2011. Kami berdua punya banyak waktu duduk bersama bercerita tentang kampung halaman.  Mesu ta mena saya dengar dari saudari saya ini.

Waktu itu ada sebuah pesta adat di kampung Nasawewe. Sebuah kampung kecil di kaki gunung Kedi Watuwea (gunung mas) di Kecamatan Keo Tengah, Nagekeo. Seperti biasa pada pesta adat orang memasak daging babi menggunakan kuali besar. Untuk suatu perhelatan dengan banyak orang maka babi yang disembelih pasti berukuran besar. Babi-babi besar biasanya berlemak.  Dalam kebiasaan orang Nagekeo, memasak daging pada acara adat dilakukan oleh kaum lelaki. Semua orang berpartisipasi. Ada yang sekedar menyorongkan kayu api. Bumbu-bumbu sederhana biasanya berupa  cabe, garam dan asam serta daun sereh pasti selalu ada.

Pada saat masak ada yang bertugas untuk mencicipi. Mencicipi (mimi) dari kuali besar biasanya dilakukan oleh beberapa orang. Yang dicicipi adalah kuah daging babi yang disajikan dalam tempurung kelapa (ea). Ketika itu belum ada piring, orang Nagekeo menggunakan tempurung kelapa dijadikan pengganti mangkuk. Seorang bapak  dipinggil untuk  ikut mendapat kehormatan  mencicipinya.  Sang bapak mengangkat tempurung berisi kuah kemudian langsung menempelkan di bibir dan segera menumpahkan kedalam mulutnya dengan satu horokan panjang. Karena kuah berlemak, maka permukaan kuah panas kelihatan jernih dan tidak beruap. Setelah menelannya, kuah ternyata sangat panas bagaikan luapan letusan abu vulkanik menerjang ususnya. Oe… mesu ta mena (aduh sayang yang disana). Seketika dia ingat isteri dan anak-anaknya yang dikasihi di kampung Nuamuri. Sang bapak tidak tertolong, dia akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam kesadaran dia akan meninggalkan orang-orang yang dia kasihi. Mesu…mesu.. (sayang).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to MESU TA MENA

  1. nando doke says:

    cerita te gaga tu mbee om, ida kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s