NAGEKEO DAN GEMA INDUSTRI RAKYAT

Omong tentang industri mungkin orang selalu pikir tentang sesuatu yang rumit dan jumlah rupiah yang besar. Industri artinya rajin. Maka kalau kita bicara tentang industri, kita omong-omong tentang kerajinan.  Kita bicara tentang bagaimana orang meningkatkan penghasilan melalui  ketrampilan tangan atau mesin.

Ketika akan ke Jakarta, saya sempat mampir di kantor bupati Nagekeo dan  sedikit tatap muka dan omong-omong dengan Bapa Bupati.  Sedikit pamer, saya membuka laptop memperlihatkan foto-foto orang Keo Tengah membuat kripik jagung.  Proyek makanan ringan dari jagung, pisang dan tepung ikan sempat didengung keras di Nagekeo. Sejumlah anggaran telah dihabiskan untuk mengirim orang-orang kampung menimba ilmu di Sulawesi. Disana-sini sejumlah orang membuat kripik jagung sebagai hasil pendidikan dengan biaya pemerintah daerah yang minim dana itu.

Departemen Perindustrian Kabupaten Nagekeo sempat membuat proposal untuk menginvestasi peralatan industri, menggoreng, mengepak  hasil kripik setengah jadi dari rakyat.  Saya sempat membaca proyek ideal itu dan pernah berpikir terlibat di proyek ini. Tetapi sayang sampai saat ini hanya berhenti sebagai program. Tidak ada realisasi.

Mengirim begitu banyak orang untuk belajar akhirnya menuai kesia-siaan. Seharusnya pemerintah cukup mengirim sejumlah orang yang punya jiwa wiraswasta. Kemudian dia kembali dengan ketrampilan dan menularkan pada karyawannya.

Mengangkat masalah industri di Nagekeo di sini bukan untuk mengurangi rasa hormat saya pada petinggi di sana. Saya hanya mau mengatakan bahwa sebagai orang Nagekeo, saya melihat banyak peluang disana. Semisal nanas dan pisang  yang terbuang di Keo Tengah masih bisa diolah menjadi keripik. Kita juga bisa mengemas kopi Nagekeo jadi buah tangan melalui bhoku-bhoku (tabung bambu). Juga arak dari pohon lontar bisa dikemas seperti minuman alkohol Bali.

Berbagai industri rakyat bisa digalakkan di Nagekeo. Ada tenun termasuk tenun ikat yang semakin di tinggalkan, anyaman  pandan dan lontar serta berbagai industri makanan kecil. Kita bisa belajar dari daerah lain di pulau Jawa selain minyak cengkeh dari Mauponggo.  Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua yang mencintai Nagekeo. Modhe modhe Nagekeo soo modhe. Pawe pawe kita ta Keo Nage. Pawe pawe jeka nipi nande.  Mari kita bangun Nagekeo.

 

 

 

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in EKONOMI. Bookmark the permalink.

2 Responses to NAGEKEO DAN GEMA INDUSTRI RAKYAT

  1. Agus G. says:

    Membangun usaha industri perlu adanya 3 faktor pendukung utama,yakni ada 3 M, pertama Manusia (SDM),kedua : Mesin peralatan,dan ketiga Modal atau capital.Ketiga syarat ini mutlak dibutuhkan jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan sdm (manusia) yang memiliki ketrampilan itu dipaksakan untuk menghasilkan produk industri baik barang maupun jasa.sebab manusia tetap manusia, bukan mesin untuk dipaksakan mengolah potensi sumber daya alam yang ada. Oleh sebab itu perlu tersedianya mesin perlatan dalam melakukan kegiatan proses produksi sehingga dapat menghasilkan mutu dan jumlah produk industri sesuai selerah pasar . Kita tahu bahwa pengrajin industri di desa terpencil itu sangat membutuhkan mesin peralatan namun jangkauan modal masyarakat untuk menyediakan mesin peralatan dimaksud sama sekali tidak dimiliki.
    Modal sesungguhnya ada di bank,koperasi namun cara untuk mendapatkan modal itu harus ditempuh dengan jalan yang berlika liku karena ada persyaratan tertentu yang wajib dipenuhi oleh calon pengguna modal dimkasud.Dengan kata lain cita – cita pengrajin pun kandas di rerumputan.
    Anda dan saya pasti akan bertanya kenapa sih tidak ada tanggapan dari instansi pembina yang berwenang untuk segera membantu mengastasi permasalahan yang dihadapi pengrajin itu ?
    Pada dasarnya instansi pembina sangat sungguh – sungguh berkeinginan membantu mengatasi permasalahan diatas, namun selalu saja ada jawaban bahwa kekurangan alokasi dana DAU,maka jangan heran jika kondisi seperti itu tidak akan pernah diatasi.
    Pemerintah bersama dewan sering menciptakan kelucuan yakni cuma mau adanya pertumbuhan dan perkembangan industri di tanah Nagekeo, namun kok kikir amat dalam mengalokasikan anggaran pembinaan industri kecil bagi rakyatnya.Pemerintah dan wakil rakyat kadang Hatinya ingin ada perubahan namun jiwanya enggan mengalokasikan anggaran pembinaan industri, Memangnya industri bisa tumbuh cepat hanya dengan cara mengkedipkan mata lalu semua cita – cita terwujud ?
    Untuk menumbuhkembangan usaha industri yang nyata dan bertanggung idealnya setiap tahun anggaran pembinaan bidang perindustran minimal 2 miliyar, namun kenyataan selama ini paling banter dialokasikan 90 juta sampai 180 juta rupiah pertahunnya.
    Oleh sebab itu kita tidak heran potensi sumber daya alam nagekeo tetap saja begini.
    Terima kasih bagi kita semua yang saling menyusahkan diri karena tidak suka adanya pertumbuhan dan perkembangan industri di Tanah Nagekeo.

  2. Tanagekeo says:

    Pak Agus, terima kasih sudah mampir di blog ini. Sangat disayangkan bahwa anggaran pembinaan terlalu kecil. Mungkin yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha industri kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s