ADAT BATAK DAN MAKAN BERSAMA

Seorang pemuda dari Wudu, Nagekeo melamar seorang wanita Batak di Rawa Lumbu, Bekasi. Si pemuda bekerja di perusahan minyak di Bontang, Kalimantan Timur. Seorang teman kelas saya Pius Delo Lay menganjurkan pemuda Wudu ini untuk menghubungi saya sebagai orang Nagekeo di Jakarta. Disamping itu dia juga menghubungi seorang dari Maumere, yang juga ternyata teman kelas saya dan Pius.

Bersama istri masing-masing kami mendatangi keluarga wanita untuk melamar secara resmi.  Si pemuda telah menghubungi kakak iparnya untuk menyediakan segala sesuatu yang perlu kami bawa pada saat lamaran. Jadi segala kebutuhan minimum secara adat Batak sudah tersedia disana. Pada saat lamaran kami memberikan sejumlah uang. Ibu dari anak wanita yang dilamar, sambil duduk membentangkan kain ulos berisi  beras di pangkuannya. Kami  diminta  menaruh  uang diatas hamparan ulos. Ini tentu sesuatu yang baru bagi kami, yang tidak dijelaskan sebelumnya.

Setelah pembicaraan resmi selesai disusul dengan acara makan malam yang sudah agak larut. Maklum kami datang sudah sekitar jam 20.00 WIB. Kami butuh waktu hampir satu jam mencari alamat. Komunikasi telepon waktu itu tidak secanggih sekarang.

Sajian makan malam disediakan. Ada daging babi dengan potongan kepala tegak di nampan. Sedikit terpisah ada nampan penuh berisi masakan ikan utuh berbumbu kuning. Ikan berukuran sebesar telapak tangan anak bayi tersusun rapih melingkari permukaan nampan. Lauk daging babi ini sesungguhnya adalah bawaan kami. Tetapi untuk mempermudah, calon pengantin laki menghubungi kakak iparnya untuk menyiapkan semuanya tanpa informasi kepada kami.

Lain belalang lain padang. Lain lubuk lain ikan. Kata pepatah. Dan ada hal lain dan yang juga  baru untuk kami. Ketika akan makan, diberitahukan bahwa kami pihak laki-laki makan dengan lauk ikan, dan pihak wanita dengan lauk daging babi.Karena jam makan agak larut, rasa lapar kami sudah sangat luar biasa. Istri saya yang begitu ingin mencicipi daging babi,  terus saja melirik sajian untuk pengantin wanita. Dia terus saja berbisik mengungkapkan  rasa aneh itu. Sementara orang-orang Batak makan bersama dengan lauk daging, kami tiga pasangan keluarga Flores makan ikan. Sajian ikan untuk orang Nagekeo, Flores adalah lauk yang paling rendah dan tidak untuk pesta. Sajian daging babi selain lebih terhormat, dalam keadaan lapar seperti malam itu tentu lebih mendongkrak selera makan.  Ketika akan pulang kami disuruh membawa sisa santapan malam kami berupa ikan kecil-kecil itu. Ketika dalam perjalanan pulang isteri saya menolak membawa ikan itu ke rumah dan memberikan pada istri teman saya. Bertahun-tahun sesudahnya istri saya masih mengingat peristiwa makan bersama ala Batak itu.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s