PSSI DAN AMBISI PEMIMPINNYA

Saya bukan seorang penggila olah raga. Olah raga yang saya kenal adalah olah raga wajib di sekolah. Apalah artinya olah raga di Sekolah Dasar itu. Di kampung kami main kasti itu yang paling populer. Kalau toh kami berenang tiap hari, bukanlah olah raga, tetapi mandi pagi sebelum sekolah dan siang kami mancing ikan (gegi). Pada sore hari setelah bermain bola sepak dari ikatan daun pisang di depan halaman rumah, kami menceburkan diri ke laut lagi. Keringat yang mengucur  mengikat debu tanah disekujur tubuh. Kami langsung melorotkan celana dan melapaskan di atas batu pantai, kemudian mencebur ke laut sambil sekalian bertendangan memperebutkan batu besar yang menonjol di atas permukaan laut.

Ketika di Sekolah Menengah selama 7 tahun  di tempat dingin Mataloko, semua digilir untuk bermain basket, bola kaki atau voli. Waktu di sekolah tinggi di bukit matahari Ledalero, ada aturan wajib olah raga. Olah raga wajib, bukan murni kesenangan. Karena itu saya bukan penggila olah raga. Tetapi urusan perhatian dan senang nonton sepak bola ini kegembiraan yang paling murah.

Menonton sepak bola di televisi, yang menarik adalah menyaksikan begitu banyak orang kita pintar membicarakan tentang teknik dan strategi. Penonton siaran sepak bola jelas sangat banyak. Jumlah tayangan iklan promosi sebagai bukti. Besar biaya promosi harus sebanding dengan jumlah audiens.

Bicara sepak bola di Indonesia tak bisa lepas dari bicara tentang organisasi yang namanya PSSI. PSSI ini adalah organisasi. Ini adalah organisasi yang paling populer di negeri kita, karena memang berkaitan dengan olah raga paling populis, yaitu sepak bola. Karena itu siapa pun ketuanya, dia adalah seorang yang populis juga.  Kita  menyebutnya populis, untuk menekankan pentingnya memperhatikan kepentingan orang banyak.  Sayang sejuta sayang, sedih, kesal, sebal, marah itu perasaan yang timbul saat ini.

Di negeri ini mungkin organisasi yang namanya PSSI adalah organisasi yang paling kontroversial. Yang kontroversial adalah sikap pemimpin atau ketua organisasinya.  Kalau boleh tanya apakah organisasi ini adalah koperasi, yayasan atau perusahaan pribadi?  Semua pencinta sepak bola termasuk pemerintah seolah karyawan atau anak buahnya.  Kita seperti tidak bisa ikut menentukan kebijakan disana. PSSI seperti milik pribadi.  Yang dipertontonkan disana adalah ulah muka badak gaya premanisme. Egoisme mengalahkan harapan dan kepentingan banyak orang.

Pemilihan Ketua Umum PSSI menggantikan Nurdin Halid begitu transparan dibeberkan di media. Kita  semua jadi tahu. Pada saat yang sama kita semua kesal. Bahkan marah. Nurdin Halid dikecam banyak orang, tetapi banyak orang tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai kapan kita semua akan terus bersemangat menonton kesebelas kesayangan kita? Kita semua sibuk menimbun kesal pada induk organisasi sepak bola, sampai lupa kesenangan menonton klub kebanggaan kita satu-satunya. Nurdin Halid akan menjadi catatan paling buruk dalam sejarah sepak bola kita. Dan ini salah satu contoh wajah kepimpinan di negeri ini. Tak pernah mengakui kekurangan, apa lagi mau mundur dan harakiri seperti para menteri di negeri Sakura. Ya Tuhan..Ya Allah…mundurkan Nurdin Halid dan biarkan TIMNAS dengan GARUDA didada melaju.

Photo: Vitalis/28-11-2011

Lokasi :  Pantai Lovina

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s