BALI TIDAK SEHARUM CANANG DAN WEWANGI DUPA

Canang adalah tatakan berisi kembang, yang selalu mewarnai tanah dan rumah serta peralatan hidup orang Bali. Sejak pagi subuh sampai malam di Bali selalu ada tebaran bunga di depan pagar rumah, di persimpangan jalan, di bibir pantai dan bagian dalaam rumah. Pulau Bali selalu terasa wangi ketika api disulut diujung lidi dupa. Tidak ada yang merasa aneh bahwa selalu ada orang yang sedang bersembahyang di depan orang banyak entah di pinggir jalan raya sekalipun.

Bali memang pulau doa dalam wewangian kembang dan dupa. Kehidupan Bali dan keimanan umat Hindu yang permisif itu menjadikan Bali begitu menarik. Yang mungkin menyimpan cemas adalah Bali sedang tergadai dan bahkan terjual habis. Masyarakat Bali tidak saja menggadai dan menjual tanahnya, tetapi yang terjadi di depan mata Bali sedang menggadai dan menjual budaya dan harga diri anak bangsanya.

Sampun napi gatrani? Ken-ken kabare Bali? Becik-becik…? Ampure… nenton becik!! Maaf saya tulis ulang beberapa kata bahasa Bali yang saya pelajari dari warung  gerobakan NADI MERTA . Gede Merta yang santun dengan gerobak jualan jauh lebih wangi dari dupa Bali. Dia sangat diingat dan dikenang wanginya sampai di Eropa dan benua Amerika. Pada musim dingin para turis dari Belanda dan Kanada selalu ingin kembali duduk menikmati lumpia Bali yang manis serta sate cumi sedapnya. Rasa sambalnya seperti tak kehilangan sedapnya karena Gede Merta selalu menyajikan kebajikan. Ia selalu ramah dan bersahabat.  Keramahannya terpateri pada kenangan para tamunya sampai selalu ingin kembali.

Dua anak muda Bali sedang bercanda dengan seorang wanita belia berkulit bule. Yang seorang mengatur jarak, sementara pemuda yang satu berbicara mesrah dan sebentar-sebentar berpelukan. Di tempat yang lain seorang lelaki berkulit gelap tegap perkasa seperti ayam jago bertaji di depan betina.  Di warung gerobakan beberapa lelaki meneguk bir. Seorang wanita berwajah pas-pasan dengan rambut terurai basah menikmati baso, sambil sesekali memasukkan tangan ke dalam mulut membersihkan gigi. Dia sedang kelaparan. Dia mengambil sebungkus kerupuk dan mengigit kemudian meludahi sampahnya beberapa kali. Dia terus saja menunjukkan keakaraban dengan seorang lelaki botak dan tua.

Pada dua kali kesempatan makan malam di salah satu restoran, ada wanita berwajah kampung menemani orang kulit putih. Di salah satu meja seorang wanita dengan suara kurang terkendali memesan steak. Ketika lembaran daging hangat berlumur bumbu tiba , sepasang beda usia dengan wanita Bali sederhana memandang ke arah uap panas. Tamu  baru ini  meneguk ludah tergugah seleranya. Saya melihat dia juga memasan menu spesial.

Seorang anak muda berwajah indo duduk menghadap kali berlumpur di pantai. Dia membelakangi kami, yang sedang memesan gado-gado. Terpanah akan wajahnya, saya mencuri kesempatan ketika dia hendak membayar. Saya bertanya apakah dia orang Indonesia? Anak muda belasan tahun itu kelihatan malu dan tidak percaya diri. Dia seperti sadar diri dari hubungan tak wajar Jerman Bali.  Pada malam yang lain saya tak sengaja berjumpa lagi di pantai tugu Lumba-lumba. Dia duduk menjauh bersama seorang teman ingin makan lumpia. Tetapi dia selalu menmpakkan wajah tidak bisa seriang anak muda lainnya.Ketika akan membayar dia kekurangan uang dan minta temannya.

Di salah satu hotel yang tidak terurus, duduk seorang wanita Bali dengan seorang anak gadis. Sang gadis masih duduk di bangku SMP. Terkadang gadis ini melayani tamu asing. Sang ibu nampak murung dan tegang melayani saya. Dia menikah resmi dengan lelaki Australia. Punya seorang anak. Beberapa bulan mengirim satu atau dua juta rupiah selanjutnya tidak ada berita. Sang wanita menumpahkan isi hati sambil menemani saya minum fanta. Puteranya mungkin bakal menjadi calon anak mudah Bali berkulit dan mata asing di negerinya sendiri. Dia bakal muncul ragu dan tidak pede.

Pasangan beda usia sudah menjadi pemandangan biasa. Wanita Bali dan lelaki turis asing. Lelaki Bali remaja dengan wanita paruh baya. Di bibir pantai Lovina dua wanita mudah bertelentang tanpa penutup dada. Keduanya sebentar bangun dan melumurkan tubuh dengan pelembab. Sesekali sambil menyemperot tanpa risih. Terkadang sambil saling berhadpan dan berpunggungan.  Di bawah pohon waru ada seorang ibu memijit seorang wanita muda. Ketika akan memijit tengkuk, wanita ini memunggungi laut melepaskan kutangnya. Di pinggir pantai seorang lelaki berpakaian tradisional Bali mundar mandir. Ketika menjelang tengah hari di tempat wanita telenjang ini dipenuhi orang Bali melakukan upacara larungan abu sehabis ngaben. Ada  seperangkat bunyian dengan dipimpin pemangku berpakaian putih dengan rambut terikat kemudian memegang lonceng sesekali melentikkan kembang dari jari tangannya. Dia membacakan mantra, seorang bapa bagian paling depan menghadap ke laut terus memegang kipas bulat. Dia terus membuat gerakan memutar. Upacara hikmat terjadi persis ditempat wanita telanjang berbaring santai menjemur badan.

Bali memang unik. Bali damai bagi siapa saja. Tetapi Bali harus juga dijaga agar Bali dan budaya serta umatnya tidak tergadai dan terjual habis. Kalau itu terjadi Bali tidak lagi pulau dewata. Karena canang dan wewangi dupa memudar karena kehilangan para dewata dan pemujanya. Tak akan mustahil Bali firdaus yang hilang dan ditemukan  menjadi firdaus yang kehilangan hijaunya. Bali akan menjadi gersang. Bali tak ada bedannya. Bali mungkin tidak akan eksotis lagi. Bali mungkin hanya punya pantai, danau dan gunung sama seperti yang lainnya.

Siapa pun yakin bahwa wewangian  dupa gaharu, cendana dan kembang aneka rupa dalam canang akan lebih berkenan di hadapan para Dewata bila pemujanya melambungkan  kebajikan yang harum mewangi. Lovina..Love Indonesia.. Love Bali.. Love Dewata

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s