DUKA DAHAN LEMPANG

Pagi ini untuk kedua kali saya merayakan ibadat hari Minggu di kota Singaraja. Minggu lalu pemimpin ibadat seorang imam asal Timor. Saya sempat bersalaman, dan ternyata dia sangat menganal saya, tetapi sebaliknya saya sudah lama lupa. Kotbahnya singkat  saja. Tetapi saya sudah lupa apa isinya. Ini mungkin karena saya kurang mengikuti kotbahnya tanpa mengurangi nilai pewarta dan isinya.

Hari ini upacara dipimpin seorang pastor asal Bali. Ketika nyanyian pembukaan sang imam menoleh ke kiri dan kanan. Umat masih belum banyak. Sebentar-sebentar ada yang baru datang. Memang yang jadi masalah di Singaraja adalah transportasi umum sangat sedikit. Bagi yang tidak memiliki kendaraan sendiri mengalami kesulitan mendapatkan kendaraan.  Kotbah hari ini sangat panjang. Lebih dari 40 menit. Dari sekian banyak tema  ada satu yang nyangkut di kepala. Setiap  menghadiri kebaktian di gereja, saya selalu mengharapkan ada yang yangkut dan dibawa pulang ke rumah dan ditrapkan dalam kehidupan.

Oleh-oleh yang saya bawa pulang hari ini adalah kisah dahan lurus.  Seorang  dengan gergaji di tangan datangi sebatang pohon rindang. Mengamati dahan-dahan yang ada.  Sesuai dengan kebutuhan dia memotong sebuah dahan yang lurus. Dahan kayu lurus itu digergaji hingga rebah di tanah.  Mengapa aku? Mengapa bukan dahan-dahan lainnya. Ada rasa sedih dan perih, karena dia harus diputuskan dari pokok induknya. Sementara yang lain dibiarkan tumbuh segar, dia menderita disakiti. Dipotong kemudian daun-daun dibersihkan. Dahan ini dibuat lebih menderita karena harus dipotong-potong lebih pendek.  Disimpan dalam ruang khusus untuk pengeringan. Derita tidak juga berakhir, sebuah bor menembus di tengah batang. Setelah itu masih beberapa lobang di buat. Masih juga digosok dengan kertas kasar merobek-robek bagian luarnya.  Hasilnya adalah sebuah alat musik yang disebut suling atau seruling.

Sebagai alat musik yang berkwalitas suling ini selalu dijaga, dirawat dan disimpan  di tempat khusus. Jauh lebih istimewa dari pada semua dahan lain pada pokok asalnya. Ada yang mati sia-sia, dibakar menjadi abu.  Inilah pesan dahan lurus buat manusia dalam liku-liku kehidupannya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s