TERBUANG MELANGLANG JAUH DARI PEMUJANYA

Mega Ayu Home Stay tidak menarik sama sekali bagi saya. Yang menarik adalah kata Home Stay. Saya ingin menikmati suasana malam seperti di rumah. Waktu sekitar pukul 20.45 seorang teman  dari Singaraja menghantar saya ke Lovina. Lovina adalah salah tempat wisata di pesisir utara pulau Bali. Sambil mencari makan malam saya berkunjung ke salah satu cafe. Saya sempat menikmati bir disitu sekedar menghilang penat dan menghapus rindu rumah. Kembali tidur.

Jumat, 21 Januari 2011, saya menempati kamar nomor 5 dari 9 kamar di penginapan Mega Ayu. Lokasinya persisi di pinggir Jalan raya Lovina, Buleleng.  Selain satu kamar paling ujung menghadap laut, yang lainnya menghadap ke tembok pembatas lahan kosong. Kamar menghadap ke timur. Harga sewa hanya $5.00 (lima dollar)  berikut  makan pagi.   Pagi ini sarapan saya agak ekstra karena tuan rumahnya Mike mengundang saya sarapan bersamanya.  Saya mendapat ekstra roti telur selain sarapan standar.  Ternyata Mike, yang berwarga negara Australia ini adalah pemilik galery dan juga penginapan.

Yang terhempas dari Timor tanah airnya sendiriKetika mata hari pagi mulai bersinar terang, saya mengamati patung-patung kayu yang bersandar di tembok pagar pembatas. Saya merasa sangat akrab dengan wajah seperti ini. Mirip ukiran kayu pada benda-benda berhala adat Nagekeo.   Mike yang sedang mencabut rumput segera menyapa saya. Ini ukiran kayu dari Timor. Saya segera memperkenalkan diri sebagai orang Flores. Dan Mike, yang orang dari negeri Kanguru itu semakin bersemangat menjelaskan semua detil dan maknanya. Dan saya pun diajak masuk ke ruang pamernya.

Melihat besarnya jumlah patung kayu yang ada di  halaman dan pojok rumah serta yang berada di galery,  saya membayangkan berapa rumah adat dan kampung yang telah dikosongkan.  Galery ini mungkin memiliki semua koleksi yang berada di pulau Timor. Mulai dari ukiran kayu, topeng kayu dan tulang, peralatan tenun serta koleksi tenun  Tak ketinggalan pintu rumah dan sejumlah meja serta bangku berukir.  Ada rasa bangga bahwa negeriku, tanah kelahiranku Nusa Tenggara Timur punya kreasi seni yang dibanggakan. Tetapi pada sisi lain menyimpan keprihatinan luar biasa, harta budaya dan agama adat tersingkir dan terbuang dan akan terus menjauh dari pemujanya. Kelak mereka hanya menjadi sekedar pelengkap dekorasi, kehilangan nilai spiritualnya. Tak bedanya dengan sebuah replika benda bersejarah dari satu negara. Hanya sekedar kenangan seorang pernah berwisata ke suatu kawasan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s