BERSEMBAHYANG DAN BERSYUKUR DENGAN BERUPACARA

Meta,seorang anak saya , waktu itu masih Sekolah Dasar ikut berlibur di Mauromba Flores.  Penerbangan Kupang Ende dialihkan ke Maumere akibat genangan air hujan. Perjalanan darat melelahkan Maumere  ke Ende memberi hiburan tersendiri. Pemandangan  indah  dengan begitu banyak air terjun di bibir tebing dan jurang. Liukan tajam berbahaya di gunung dan pantai selatan Flores menyita perhatian. Perjalanan dengan motor laut dari Mauponggo ke Mauromba tidak kalah menarik. Bisa melihat terumbu karang dan ikan di dasar laut yang jernih. Sedikit mengangkat mata ke darat ada air terjun mengucur dari bukti batu Kedi Dewa.  Flores, pulau bunga memang mempesona. Sebelum ke Jakarta kami tinggal beberapa hari di Bali. Pantai Kuta dan Sanur, juga Pura Besakih kami kunjungi. Enakan di kampung opa di Flores, demikian kata Meta polos

Saya pernah  melintasi Bali dari Gilimanuk ke Pelabuhan Padang Bai dalam perjalanan  darat solo   dari Jakarta ke Flores.  Perjalanan dari Selatan ke Utara Bali saya lakukan  pada  tanggal 14 Januari 2011. Dari dua perjalanan  ini saya berkesimpulan bahwa pemandangan alam Bali sebetulnya biasa-biasa saja.  Gunung, sawah dan pantai banyak di negeri kepulauan ini. Kalau pun ada danau, itu pun tak luar biasa. Karena belahan daratan lainnya di negeri seribu pulau ini juga memiliki hal serupa.  Tetapi mengapa Bali begitu menarik dan berdaya pikat wisata luar biasa?

Bali memang unik dan eksotik . Keunikannya itulah yang menarik.  Bukan alamnya tetapi orang Bali itu sendiri yang unik. Siklus kehidupan  masyarakat Bali adalah sebuah perjalanan ritus. Mereka dari waktu ke waktu menjalankan upacara. Bali memang penuh upacara.  Sejak pagi subuh mereka melakukan upacara.  Aktivitas seorang  ibu rumah tangga tak putus dikaitkan dengan upacara. Setelah masak seorang ibu  Bali tahu  harus ada upacara untuk dapur, yang berkaitan dengan api. Ada upacara yang berkaitan dengan sumur  atau kran sebagai sumber air. Karena itu tak heran kalau anda memasuki tempat cuci tangan di toilet Bandara Ngurah Rai selalu ada canang kembang dan janur.

Ciri dari rumah tinggal orang Bali mudah di kenal. Sejak di halaman depan sudah berdiri tegak  sang Penunggu Karang. Orang  non Bali mungkin melihatnya hanya sebagai tiang atau tugu pendek yang berukir dan diberi kain sarung. Tak lebih dari sebuah altar persembahan. Orang Bali mempercayai ini adalah penunggu. Dia adalah kekuatan yang menjaga karang atau pekarangan. Dia sesungguhnya person yang melindungi seisi rumah dari kejahatan. Karena itu sang Penunggu Karang pantas mendapat kebaikan dari penghuni atau tamunya.

Penunggu Karang

Ketika pertama kali saya berada dalam rumah keluarga Bali di Singaraja ada tamu lain seorang bapa bersama puterinya  mahasiswi salah satu perguruan tinggi. Keduanya memasuki rumah. Ketika masih di pintu gerbang  sang tamu  menempatkan salah satu gorengan dan yang satu lagi diberikan pada Penunggu Karang di sudut  sebelum masuk rumah. Kita harus memberi kebaikan biar kita juga mendapatkannya lagi, tutur Putu Mayeon sang tamu. Made Karya, pengemudi yang membawa saya dari Denpasar ke Singaraja selalu menyisihkan uang penghasilan dan tipnya untuk upacara.

Dalam rumah orang Bali ada  pelangkiran tempat mereka bersembayang di ruang depan, juga di ruang lainnya. Disitu mereka melakukan sembahyang. Putu seorang pelayan restoran apung di pelabuhan Singaraja mengatakan sebelum pergi kerja dan setelah kembali kerja dia bersembahyang.

Hidup orang Bali sesungguhnya menjalankan upacara sesuai dengan iman dan kepercayaannya. Hidupnya penuh dengan upacara. Ada upacara harian, ada upacara 15 hari sekali pada purnama dan Tilem (bulan gelap) ada Galungan per enam bulan, ada upacara khusus setiap pura. Upacara Pura keluarga kecil, Pura keluarga besar, Pura Desa khusus untuk Dewa Brahma (pencipta), Pura Segara di pinggir laut dikhususkan untuk Dewa Wisnu (pemelihara) dan Pura Dalem untuk Dewa Siwa (pelebur). Selain itu masih ada upacara di 6 Pura Kayangan (Tanah Lot, Ulu Watu, Batu Karu, Pulaki, Batu Siwy, Besakih).  Sekelompok keluarga secara bersama mengunjungi Pura Kayangan ini seperti sebuah wisata rohani. Selain upacara berkaitan dengan kehidupan pribadi sebagai manusia sejak bayi,potong pusar, usia 3 bulan, potong gigi (hilangkan sifat buruk) sampai ngaben, orang Bali juga membuat upacara khusus untuk semua pohon dan hewan.  Betapa saratnya   muatan upacara dalam perjalanan hidup orang Bali yang beragama Hindu itu.

Ibu Putu penjual canang (kembang dan janur) di pinggir jalan mengatakan hidupnya bergantung dari kegiatan ini. Sejak pagi orang Bali menaruh canang di muka pagar rumah atau di gerbang Pura, di sumber-sumber pemberi kehidupan dapur api dan air sumur atau kran. Upacara sembah dan syukur dilakukan oleh orang Bali tanpa beban karena itu adalah kehidupannya. Orang Bali bersyukur pada Sang Mahakuasa, bersyukur pada sesama dan alamnya, pada gunung, pepohonan  dan hewan yang punya andil dalam kehidupan manusia. Keindahan Bali  berupa gunung, danau, sawah dan pantainya menjadi lebih istimewa karena manusia Bali sendiri hidup dengan selalu merayakan kehidupannya. Caranya dengan melakukan  upacara sembah dan syukur. . Bali unik dan eksotis. Bali  yang Hindu punya nilai lebih dan berdaya pikat luar biasa. Karena mereka hidup untuk menghargai dan merayakan kehidupan sendiri  beserta seluruh alamnya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s