BATAS WILAYAH ADAT

Penyebutan batas wilayah adalah merupakan pengakuan kebersamaan dalam satu keluarga. Berbagai cara menyebut batas wilayah.  Udu eko merupakan penyebutan batas awal  (udu)dan batas akhir (eko). Udu eko adalah sebuah pengertian wilayah adat secara umum. Udu goo eko bhoko untuk sebuah kesatuan wilayah kecil (go’o) dan terbatas atau pendek (bhoko). Udu mere eko dewa untuk sebuah kesatuan wilayah yang luas, sebuah kesatuan yang besar (mere) dan panjang (dewa). Udu mere eko dewa adalah kesatuan adat yang luas melingkupi beberapa kampung adat. Penyebutan udu mere eko dewa menggambarkan adanya pengakuan kehadiran warga masyarakat adat dari kampung  lainnya.

Berbagai penyebutan udu eko. Untuk penyebutan batas wilayah kampung kecil secara tunggal sebagai udu goo eko bhoko  orang menggunakan tanaman atau nama lokasi. Seperti kampung kami disebut dengan udu pau jawa eko doka mboa. Artinya batasnya mulai dari lokasi yang dengan tanaman mangga berbuah kecil (pau jawa) dan berakhir di sebuah tempat atau kampung kecil dimana ada pohon randu (mboa). Untuk seluruh wilayah yang lebih luas meliputi seluruh kampung-kampung dalam kesatuan adat kami disebut dengan udu mbuju eko lomba. Berawal dari mbuju (nama pisang hutan) atau juga lokasi dimana banyak ditumbuhi pisang hutan dan berakhir di kampung Lomba (Romba) di bibir pantai.

Di setiap wilayah adat Nagekeo, khususnya di bibir pantai orang menyebut wilayah batas adat dengan udu mbei kedi, a’i ndeli mesi. Batas awal atas (udu) dari kaki gunung (kedi) dan batas akhir berujung bawah (a’i) menyentuh ( ndeli) laut (mesi). Masih ada banyak penyebutan batas wilayah tergantung dari bagaimana cara memandang dan kepentingannya.

Catatan ini terinspirasi dari pertemuan dan pembicaraan santai dalam sebuah jamuan pesta nikah Arnoldus Rangga Wea di Marga Siswa, Jl. Sam Ratulangi, Jakarta pada tanggal 8 Januari 2011. Hari itu saya duduk satu meja bersama saudara-saudara dari Mauromba termasuk ibu Theresia Dawo, Yocinta, Yohana Gede, Marcia Babo dan saudara Anton Pio.  Perjumpaan dengan orang-orang sedaerah mengingatkan saya akan beberapa ungkapan bahasa ibuku.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s