MAI JAO KO KAU SA NDEKA

Cerita ini benar terjadi. Seorang bapak di Ende berjumpa dengan seorang anak muda. Anak muda itu ramah menyapanya.  Orang Flores biasa mengajukan pertanyaan  siapa orang tua seorang anak atau siapa saja. Karena dengan itu dia akan segera tahu hubungan keluarganya.  Kau ana koo sai? Yang ditanya menjawab “ana koo bapa Dino”. Sang bapak langsung merasa hubungan keluarga dan menyergap dengan tanya berikutnya” ndoe kau ana koo Dino? Mai jao ko kau sa ndeka ko” (betul kau puteranya Dino mari saya pegang kau punya telor sebentar).  Anak muda itu adalah pater Soter Dino SVD, yang waktu itu  belum lama ditahbiskan jadi imam Katolik.  Ada rasa malu, lucu dan kikuk.  Masa seorang imam mau biarkan bagian ana koronya (barang deo) yang terlarangnya dipegang orang lain.

Dalam budaya orang Flores cara mengungkapkan kesetaraan persaudaraan adalah dengan saling memaki kalau perlu ringan tangan memegang barang terlarang.  Kadang-kadang seorang yang sudah tua berambut putih memanggil nama sambil hendak memegang alat kelamin seorang yang masih sangat muda. Ini hanya mau menunjukkan bahwa walau ada perbedaan usia tetapi posisinya sejajar kae ari (kakak adik) dalam suku.

<

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s