TA’I BHEKU PENYEDAP KOPI LUWAK

Saya bukan penikmat kopi. Kopi pertama yang saya nikmati adalah kopi take (kopi kental) ala orang Nagekeo. Itulah kopi yang paling digandrungi bapa saya sampai ajal menjemputnya. Komposisi paten 1 (satu) sendok bubuk kopi halus dicampur 1 1/2 (satu setengah ) sendok gula pasir untuk satu cangkir air mendidih.

Kwalitas kopi ditentukan oleh teknik goreng kopi. Kopi digoreng atau disangrai menggunakan penggorengan tembikar atau periuk tanah. Penyerapan panas lebih teratur dan perlahan. Kopi dinyatakan matang bila semua biji kopi berminyak dan mengeluarkan bunyi letupan betubi-tubi. Kopi kemudian ditumbuk dan diayak.

Orang Nagekeo pesisir selatan menikmati kopi dalam dua cara. Pertama diminum. Kedua dimakan atau diemut. Cara kedua adalah khusus untuk pelaut. Bubuk kopi dicampur gula dengan komposisi sama satu berbanding satu setengah. Campuran kopi disimpan dalam bhoku (tabung dari bambu atau kayu) ditutup rapat. Pengganti minum kopi, pelaut menicipi  campuran bubuk  kopi   tanpa air.

Ketika saya berkunjung ke rumah satu keluarga di Cirebon, tuan rumah dengan bangga memperkenalkan kopi luwak.  Kopi luwak adalah biji kopi yang berasal dari kotoran yang keluar dari dubur luwak atau musang.  Saya tidak bisa membedakan enaknya kopi luwak sajian tuan rumah. Konon kopi luwak bermula dari keingingan para pekerja paksa di perkebunan kopi Belanda. Waktu itu kopi masih merupakan barang mewah. Bibitnya diimpor oleh Belanda penjajah. Pekerja di kebun kopi tidak bisa mememetik biji kopi untuk keperluan sendiri. Para pekerja  menikmati kopi sampah dari jeroan musang. Inilah tahi musang. Penikmat kopi tahi musang ini diketahui Belanda. Bukannya marah, sang juragan ternyata minta ikut mencicipinya. Dan tersebar berita nikmatinya kopi tahi musang alias kopi luwak.   Katanya kopi luwak menjadi primadona pengunjung paviliun Indonesia di World Travel Market2010 di Excel Center, London.  Orang rela antre untuk mendapatkan segelas kopi dengan harga mahal. Harga kopi luwak menjadi salah satu yang termahal di dunia.  Tak heran kini  sudah banyak musang dikandangkan, ditempatkan ditingkat atas dan diberi makan buah kopi, di rak  bawah tempat menampung kotoran musang. Susungguhnya kotoran, karena memang ini tahi yang keluar dari pantat musang. Gara-gara tahi musang ini maka sampai MUI ikut memberikan fatwa. Soalnya ini menyangkut makanan dan minuman. Apa yang masuk jeroan harus halal. Tetapi untuk urusan kopi ini,ternyata mendapat  fatwa halal walaupun ini adalah tahi  yang keluar dari dubur binatang.

Thai bheku (tahi musang atau luwak) dalam bentuk biji kopi tidak dikenal di Flores. Yang dikenal di Flores adalah tahi  musang dalam bentuk sejenis  biji buah  sukun (tele). Orang Flores tidak membudidayakan pohon sukun. Pohon-pohon sukun bertumbuh di hutan dan sangat tinggi. Bila buah ini matang, bijinya dimakan musang. Brojotan dari dubur binatang berbulu halus  berupa di’e tele (biji sukun) ini dipungut dan digoreng. Dan ini disenangi oleh anak-anak desa kami.

<p

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s