AKU KEPALA SOMA

Pagi hari itu tanggal 15 Januari 2009, ayahku meninggal dunia. Saya berada di Manggarai. Telepon genggam saya tertinggal di dalam mobil. Saya tidak mendengar telepon masuk. Pagi jam 5.30 saya ke mobil mendapat kabar pesan singkat “bapa negha kai” (bapa telah pergi). Saya bergegas pulang.  Kesedihan terkalahkan rasa tanggungjawab  sebagai lelaki sulung, saya  segera kembali ke rumah di Mauromba.  Saya singgah di Bajawa. Sebentar bicara dengan kakak wanita saya Mia. Mia ada di Bajawa menemani keluarga putera sulungnya dengan bayi yang baru dilahirkan. Mereka harus segera ke Mbay dan kemudian baru ke rumah duka. Saya mengurus peti jenazah. Peti jenazah di titip diatas atap bis kayu. Saya memacu kencang mobil  sampai sempat menyenggol sebuah kendaraan di Wudu. Tiba  di Mauromba sekitar jam 3.00 WIT sore.  Orang sudah banyak di halaman. Ayah saya sudah terbujur kaku tertutup kain sarung (duka wo’i). Mulutnya tertutup. Matanya yang buta dalam keadaan terbuka. Saya mengatakan : Bapa, jao neghaa ndia menga te, modo bapa bere wie, mbana sai ( Bapa, saya sudah disini, baiklah, tutup mata, selamat jalan”). Mata bapa segera tertutup. Lama sesudah itu saya pikir mungkin saat itu  bapa  masih mati suri. Keesokan harinya ketika Mia, kakak tertua saya datang. Ketika wajahnya dibuka,  mulut bapa  terbuka. Nampak bapak seolah masih ingin bicara. Mia engkau dimana, engkau datang terlambat.

Dalam perjalanan dari Ruteng ke Bajawa, saya mendapat telepon dari para sahabat di Jakarta. Adik saya Anton mengatakan semua anggota keluarga besar sudah diberitahukan atas nama saya sebagai putera sulung. Sore itu masyarakat adat berkumpul di bawah tenda. Sai ta sulu fu muda ngii ( siapa yang menjadi pengganti). Dan saya ditetapkan sebagai kepala soma (kepala kuarga). Sejak senja itu, semua urusan kelurga atas nama dan dengan persetujuan saya. Bagaimana rasaya menjadi kepala soma di Mauromba? Apakah ini kehormatan, kebanggaan atau cuma sebuah beban dan kepahitan. Akan saya ulas  dalam tulisan terpisah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s