KILI KOMBO

 

Anak-anak Mauromba bermain bola. Tidak ada lagi yang gundul....

Kili kombo adalah mode rambut yang sangat tidak disukai anak pantai. Kili kombo adalah potongan rambut pendek, sekeliling kepala dicukur  habis  sampai  batas telinga ala Mike Tyson. Setiap kali rambut dipangkas dengan mode kili kombo, semua orang akan panggil kami ata Dejo atau ata Kedi Mali. Terkadang membuat kami kesal dan menangis.  Ternyata ini adalah mode rambut umumnya orang dari Kedi  Mali dan Dejo. Karena orang-orang pesisir memangkas rambut tetap membiarkan jambangnya kelihatan.

Dua pilihan mode rambut anak-anak tahun 60an. Gundul atau kili kombo. Waktu kecil banyak anak-anak pantai kepalanya dibotak. Rata-rata anak-anak umur di bawah 5 tahun gundulu. Ada alasannya. Tahun 60an belum ada lapangan sepak bola. Anak-anak bermain di halaman rumah. Tidak ada tempat bermain yang bersih. Semuanya bermain di tanah berdebu.

Karena rumah-rumah selalu berhadapan maka dua halaman bersatu dan cukup luas. Main bola dari daun pisang yang dibulatkan kemudian diikat rapih dengan tali dari batang pisang yang telah kering. Debu dan keringat menempel di seluruh tubuh. Aroma tubuh anak-anak celana dan kain sarung yang jarang dicuci bisa bikin pusing bagi yang menghirupnya.  Anak-anak pantai punya kebiasaan.  Halaman rumah penuh anak-anak bermain setelah agak sore. Waktu itu anak-anak sudah kembali dari sekolah. sinar matahari sudah mulai lebih lembut terhalang daun-daun pohon kelapa. Setelah lelah bermain dan badan besimbah keringat dan debu, kami berlari ke pantai. Melepaskan semua pakaian, yang umumnya hanya selembar celana penuh daki ditaruh di atas batu pinggir pantai. Menceburkan diri dan berenang di laut membersihkan tubuh dan kepala gundul sambil bercanda ria. Kembali ke darat menunggu badan kering dan mengenakan lagi celana yang sama dengan aroma khas.

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s