AKU MENYAKSIKAN MEREKA TERTINDAS

Berita halaman depan media masa tersita wajah muram  tenaga kerja Indenesia di negeri orang.  Berita mengenaskan tentang nasib Sumiyati menyayat hati.  Ini berita lama. Ini kabar basi.  Ini berita yang dipendamkan.  Mereka memang orang terjajah dan terjual oleh bangsanya sendiri.  Para Tenaga Kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri  bagaikan dijual dan digadaikan oleh para PJTKI sejak masuk dalam asrama penampungan.  Mereka harus membayar sejumlah uang sebelum masuk dalam kurungan kamar sempit. Disana mereka tidur bagaikan orang dalam pengungsian dan menerima jatah makanan dalam jumlah yang dibatasi. Sejak masuk rumah penginapan mereka menjadi manusia paling sengasara. Kecuali untuk membuat foto dan cek kesehatan basa-basi, mereka harus masuk kembali dalam ruang sempit dan hampir tak pernah lagi melihat alam bebas. Disana mereka menjadi orang tawanan. Kalau mau keluar harus membayar sejumlah uang. Menerima tamu dibatasi. Semua keinginan manusia normal sudah teramputasi. Mereka menjadi orang tidak berdaya.  Kesempatan melihat udara bebas adalah hanya  tatkala mereka pergi ke kantor Imigrasi untuk pembuatan passport.  Mereka masih sempat mengenal nama mereka, tetapi data mereka, bahkan alamat dan usia mereka dimanipulasi oleh petugas PJTKI.

Malaysia dan Timur Tengah  adalah tempat pembuangan anak-anak Indonesia. Mereka diserahkan pada majikan dan PJTKI mendapatkan sejumlah uang.  Saya pernah menumpang satu kapal penumpang bersama anak Indonesia yang terlempar dari negeri Jiran.  Mereka bercerita tentang kepahitan nasib teman-teman di perkebunan kelapa sawit.  Berpeluh dan berdarah mengumpulkan tandan kelapa sawit. Ketika ditimbang mereka selalu mendapat catatana tak wajar. Jumlahnya selalu dicurangi karena dikurangi beratnya.  Sehingga mereka tidak pernah memiliki uang lebih. Katanya ada sejumlah anak muda yang tidak mampu untuk sekedar bayar ongkos lari dari hutan kelapa sawit.  Tak bedanya mereka dengan lukisan budak Afrika di perkebunan kapas Amerika tempo dulu.

Tahukah kita bahwa sejumlah awak kapal ikan yang tidak pernah menikmati hari libur di negeri Jiran dan negeri Gingsen? Begitu mereka masuk dalam kapal ikan, mata mereka sudah seperti ikan yang tak pernah tidur.  Perlakuan kasar disepak dan ditampar oleh orang Malaysia dan Korea itu adalah menu biasa.  Pekerja kapal ikan tidak seberuntung para pekerja pabrik. Pakerja pabrik walau dengan perbedaan gaji dengan pekerja lokal, mereka masih menikmati upah lenbur.  Pekerja kapal ikan hampir 24 jam bekerja. Saya mengetahui itu karena saya pernah bergabung dengan PJTKI yang memasok pekerja kapal ikan.

Ketika anak Indonesia terlunta-lunta mencari tanda pengenal diri di kantor perwakilan ibu pertiwinya, mereka seperti merengek kebaikan seorang ibu tiri. Kita masih belum lupa Konjen Indonesia di Malaysia  dengan pungutan tambahan setiap urusan dokumen Imigrasi.  Saya pernah berada di Korea. Para pekerja yang membutuhkan bantuan dari pihak kedutaan di Korea tidakamendapat pelayanan semestinya.  Anak Indonesia harus menempuh jalan panjang untuk mencapai Seoul dengan biaya yang tidak sedikit bagi kantong pekerja. Urusan mereka tak pernah diperhatikan. Urusan yang seharusnya bisa cepat,  TKI disuruh pulang dulu dan kemudian datang lagi atau harus menginap. Korea bukan Indonesia dalam perbandingan biaya.  Mereka hanya datang untuk mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor. Ketika saya mengurus untuk teman-teman Korea yang kehilangan passor di kedutaan Korea di Jakarta, saya butuh waktu 1 jam, tetapi orang Indonesia di Korea butuh beberapa hari untuk surat pengganti paspor mereka yang dijarah pengusaha. Mereka lari dan pindah tempat karena tekanan tanpa berani mengambil dokumen pribadi.

Suatu saat saya menumpang pesawat terbang dari Narita ke Manila. Pesawat penuh dengan  para pekerja Philipina yang pulang kampung.  Pesawat terbang seperti kereta api kelas ekonomi. Begitu banyak bagasi berjejal di lantai. Tawa riang anak Philipina mengambarkan betapa mereka bersukacita.  Pada kesempatan lain saya menghadiri satu acara temu kangen anak-anak Philipina  yang sebahagian besar pekerja tidak punya dokumen resmi (illegal)di salah satu kota di Korea. Duta besarnya ikut berada di podium menyapa anak bangsanya. Saya ikut diundang oleh teman segereja. Dan saya tak tahan untuk bicara di panggung acara.  Beberapa anak Indonesia duduk ciut di belakang.  Mereka memang tak pernah didukung sepenuhnya oleh orang-orang yang menikmati hasil keringat mereka.  Ketika menghadiri perjamuan makan di Kedubes Indonesia di Seoul, ada beberapa orang  tenaga kerja Indonesia dikumpulkan dipojok ibarat kelompok tani pada masa Order Baru. Dan memang saya berada disana ketika Orde Baru sedang berjaya.

Pekerja Indonesia memang tidak pernah mendapat porsi perhatian yang wajar. Digaungkan sebagai pahlawan devisa, ditinggalkan penuh derita. Nasib Sumiyati dan ternyata banyak lagi mengalamai nasib buruk serupa, semoga menggugah kita semua terutama pemerintah Indonesia  untuk sungguh menempatkan tenaga, yang bertugas memperhatikan nasib pahlawan devisa kita.  Tapi ingat warta derita Sumiyati jangan sampai membuat kita lupa nynyian Gayus yang ibarat gigitan kutu anjing yang bakal membuat gatal begitu banyak orang.

 

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s