BUSANA NAGEKEO BELUM TERSENTUH SENI

Seni atau kesenian adalah sebuah kebudayaan. Yang paling kita kenal di Nagekeo adalah seni tari dan seni musik. Orang Nagekeo sudah dari sananya bisa menyanyi. Kelebihan orang Nagekeo atau Flores umumnya sudah sejak sekolah dasar sudah bisa membaca notasi. Jadi kalau seni musik betapapun masih sangat dasar, itu sudah dipahami dan menjadi kebiasaan hidup. Ketika melintasi jalan sunyi menghilangkan rasa takut orang Nagekeo bernyanyi atau bersiul. Saya masih ingat di kampung Mauromba, Om Domi Joi seorang penakut berjalan dalam kegelapan malam. Pada malam hari kampung kami  yang ada hanya kegelapan mutlak. Kalau ingin mendapat terang maka daun kelapa dibakar untuk menerangi jalan. Untuk jarak pendek orang tidak menggunakan api dari daun kelapa. Mata kaki seolah bisa melihat semuanya dalam kegelapan. Yang tidak bisa dihindari adalah rasa takut. Om Domi Joi dikenal dengan siul nyaring dalam kegelapan.

Nagekeo memiliki seni tari sendiri. Walau masih sangat statis, saya pernah menyaksikan anak-anak muda Nagekeo mulai mengemas Todagu  untuk layak dinikmati sebagai seni pentas. Untuk seni tari masih perlu terus digali dan diolah lagi sehingga menjadi sebuah kreasi seni tari baru. Dengan berjalannya waktu kreasi ini akan diterima sebagai sebuah tradisi seni baru.

Sampai saat ini belum banyak orang berpikir  dan membicarakan tentang seni busana, yaitu bagaimana menciptakan seni berbusana baru masuk dalam kehidupan orang Nagekeo. Sepanjang pengetahuan saya busana daerah mulanya diciptakan. Setelah sekian lama dikenal sebagai sesuatu yang umum. Dan dari sana dikenal sebagai ciri khas daerah. Tenunan Nagekeo sampai saat ini hanya dijadikan kemeja atau jas lelaki dan rok atau rompi wanita. Yang mungkin perlu dipikirkan sebuah kreasi baru seni berbusana dengan bahan dasar tenunan Nagekeo. Kreasi modifikasii dengan sentuhan seni harus terus ditampilkan berulang-ulang sampai semuanya mengenalnya sebagai keunikan daerah.  Saya selalu ingin suatu saat Nagekeo punya ciri khas tersendiri, sehingga setiap yang datang ke Nagekeo akan mengatakan  dengan bangga, “saya telah melihat Nagekeo”. Siapa yang mau mengawalinya?

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s