KERANG WADAH AIR MANDI DAN MINUM KUDA

Kumpulan kerang ini berada di kaki tiang teras rumah kami. Setiap kali melihatnya, saya teringat kerang besar (kepi) di pinggir sumur tua di Mauromba.

Sampai saat ini di pinggir sumur tua di Mauromba, Keo Tengah, Nagekeo, Flores  masih ada sebuah kerang besar yang digunakan sebagai wadah air mandi dan minum kuda. Sumur itu disebut sumur tua, karena orang yang paling tua di kampung kami juga tidak tahu persis sejak kapan sumur itu di bangun. Persediaan air sumur itu sangat terbatas. Ada saat-saat air sumur itu hanya selebar kertas folio. Airnya hanya berkumpul sebelah utara disamping sebuah batu sebesar dua kali kepala manusia. Batu itu menancap didasar  dan pinggir sumur. Di cekungan samping batu itu air terkumpul.

Alat mengambil air sumur pada masa lalu adalah timba terbuat dari panggal pelepah pinang  (upih pinang), yang dalam bahasa setempat disebut mba’o. Bahannya ditekuk berbentuk seperti tempat nira orang Rote, hampir mirip seperti alat musik sesando yang dimainkan Johanes Pah atau Jitron di Indonesia Got Talent. Dengan alat timba sederhana disambungkan dengan tali dari pelepah muda pohon lontar. Kulit bagian dalam pelepah dikupas disambung dijadikan tali (tadi pepa). Sumur dengan kedalaman sekitar 5 meter menuntut sebuah kerja keras untuk mengambil air dengan alat sededrhan. Pada saat persediaan air sumur sangat minim, kami harus pandai memiringkan timba dan mengambil air. Warga kampung kami sangat trampil untuk itu. Ini sumur umum dan satu-satunya. Kami harus berebut untuk menempatkan sindu (timba dari upih pinang), semua tahu harus dengan hati-hati menempelkan sindu pada sumber air yang sedikit itu agar air tidak keruh (kembu). Tidak selamanya air terbatas (meti). Pada saat air luat surut persediaan air dalam sumur melimpah (dembo). Karena pada saat air laut surut  (meti loa) ada ruang gerak air yang lebih panjang untuk mengalirnya air tawar dari gunung.  Aliran air di dasar tanah melimpah dari gunung dan tertampung dalam sumur (ae koe).   Sumber air menipis pada saat pasang naik (meti mbenu). Maklum sumur kami tidak jauh dari penggir laut. Warga kampung kami  tahu kapan meti loa(pasang surut) dan meti mbenu (pasang naik) berdasarkan rotasi bulan. Saat air penuh (dembo) dan air terbatas (meti) dipahami sebagai tanda-tanda alam biasa.

Wadah air berupa kerang besar seperti foto diatas, digunakan sebagai tempat menampung sementara untuk air mandi. Dalam keterbatasan air tawar, kami mengumpulkan dulu dalam wadah kerang (kepi) kami bilas badan setelah menceburkan diri ke laut. Sebelum mandi air tawar kami pergi berendam dan berenang di laut.  Wadah untuk air minum orang kampung menggunakan bambu sepanjang dua sampai tiga ruas . Karena itu bila banyak orang datang kesumur kita bisa lihat ada banyak bambu air (po’o) bersandar di bibir sumur.

Wadah air berupa kerang (kepi) semakin ditinggalkan sejak ada air dari pipa masuk desa kami. Tetapi sumur tua tetap hadir sebagai sumber air tak pernah kering dan selalu menolong bila pipa mengalami kerusakan.  Pernah saya ingin memiliki wadah air itu, tetapi ada suara yang melarang mengambil milik bersama. Setiap kali melihat kepi di rumahku, selintas teringat kepi di pinggir sumur tua di Mauromba.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s