AKU BAGIAN DARI KEHIDUPAN KORUPSI

Kemarin pagi saya dan isteri pergi ke kantor Imigrasi di Jl. Margonda., Depok. Kantor Imigrasi Depok terletak di sebuah gang sempit.  Di halaman  sebelah ada tenda kecil dengan sejmlah kursi untuk tunggu. Merapat  ke tembok perbatasan ada sebuah warung nasi. Ada usaha foto copy.  di tempat foto copy ada penjualan formulri isian. Ddaalam lembaran formulir tertulis  berupa cap khusus CUMA-CUMA. Jangan dulu senang. Karena kata cuma-cuma itu sama seperti apa yang tertera di tembok pintu masuk penjara tidak dipungut bayaran. Hampir di semua tempat pelayanan umum, di kantor-kantor pemerintah ada seruan dan pengumuman tidak memungut bayaran.

Ketika  mengisi  formulir di meja warung pojok kantor Imigrasi Depok, seorang lelaki berbadan kurus mengawasi  kami.  Ia mengalungi lehernya dengan tanda pengenal dari Imigrasi.  Ketika bertemu pandangan  saya menyapanya sambil beertanya apakah dia orang imigrasi. Dia segera mendekat dan menawarkan jasa. Saya menolak. Ketika kami menyerahkan dokumen, petugas loket bilang harus bawa dokumen asli. Dan karena dekat, kami kembali ke rumah mengambil dokumen asli. Sesampai di sana ternyata ada batas waktu terima dokumen.  Kami diminta untuk kembali besoknya.

Seorang lelaki membuntuti kami. Dia lelaki kurus tadi. Segera dia menawarkan jasa. Dia meminta dia yang memasukkan dokumen saat itu juga. Tidak usah bawa yang asli. Kami akhirnya tawar menawar. Lelaki penawar jasa ke kantor imigrasi pulang dengan kwitansi Rp. 500.000,- Dari pada repot kami menyerahkan uang tersebut dan berjanji untuk datang Selasa membuat foto.  Dia mencantumkan namanya dan nomor telepon pada kwitansi. Saya yakin dia tidak makan uang itu sendiri. Dia pasti juga  menutup kesungguhan petugas memeriksa dokumen asli dengan uang. Ini yang disebut suap dan sogok demi kelancaran. Dia menyuap, dan saya juga pasti terlibat ikut menyuap.  Saya sesungguhnya penyuap itu, tapi ini demi kelancaran.  Saya jadi teringat Gayus dan Ibu Miranda Gultom dan Panda Nababan dengan kawan-kawan.  Kecil-kecil saya seperti mereka juga.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s