MATA META DI NAGEKEO DAN MATA GOLO DI BAJAWA

Mata meta, mata po’i, kata-kata ini terlupakan dari kosa kata bahasa daerah yang saya miliki. Kata-kata ini kembali bergaung dalam pikiran saya setelah  Agustina Wea, keponakan saya di SMA Suradikara mendapat tugas kelompok. Dia menelpon saya mengatakan mereka akan pergi dan menginap di Bajawa untuk menulis tentang MATA GOLO dalam pemahaman tradisi budaya Bajawa.

Lahir, hidup dan mati adalah suatu peristiwa yang dialami oleh setiap manusia. Apa pun kepercayaannya setiap suku bangsa mempunyai sikap dan rasa menghadapi peristiwa kematian. Orang seolah mencari dasar pegangan atau legitimasi atas peristiwa kematian. Kematian seolah tidak bisa diterima begitu saja. Kematian masih jadi pertanyaan. Kematian harus ada sebabnya. Sikap masyarakat dalam menghadapi kematian seseorang berkaitan dengan keyakinannya atas waktu dan kondisi kematian.

Kematian dianggap wajar bila kematian itu terjadi pada orang yang sudah tua. Mereka sudah menikmati kehidupan dan juga sudah memberikan jasa kepada sesamanya. Kematian itu menjadi semacam pemenuhan hidup dan penyerahan total kepada sang Penciptanya. Karena itu sering kali kita saksikan meninggalnya orang tua-tua diterima sebagai hal wajar. Kakek saya Dombo Sina  orang tua bapa saya di Boamau, dan nenek-nenek saya Tuku Gudhu di Ipimbuu dan Ito Gudhu (keduanya saudari kandung kakek saya dari mama, Taa Gudhu) di Mauromba mereka bahkan mempertanyakan mengapa Tuhan melupakan mereka. Karena mereka sesungguhnya menunggu kematian itu tiba. Atau ayah saya Arnoldus pada usia tuanya dia mengatakan ada yang salah dalam hidup manusia. Ternyata doa minta umur panjang telah membuat dia terlalu lama menunggu dan menderita. Dia juga bersikap sama mengapa Nggae Ndewa ghewo (Tuhan melupakannya). Orang-orang seperti ini menghadapi kematian dalam kesiapan, karena mereka percaya kematian ini adalah kembali ke pangkuan yang ilahi, yang mereka sebut tama tuka ine (kembali ke rahim)  atau wado ena Nggae (kembali ke pangkuan ilahi). Kematian disini ditafsirkan sebagai saat menyudahi sebuah perjuangan. Kematian diterima sebagai hadiah, sebagai sebagai panggilan dan bukti kasih ilahi untuk merangkul kembali anak manusia kedalam pangkuan dan rahim yang penuh damai.

Ada jenis kematian yang dianggap tidak wajar. Kematian ini oleh orang pesisir selatan disebut mata meta (mati segar) atau mata po’i (mati separuh jalan).  Kematian seperti ini disebut juga mata limbo (kematian terjadi pada saat sedang enak).  Bandingan limbo pada  nande limbo.  Nande berarti tidur. Nande limbo bearti  terjaga pada saat sedang enak tidur.  Peristiwa kematian ditafsir sebagai sesuatu yang tidak wajar karena masih muda dan berusia produktif. Meninggal ketika masih muda segar (meta) atau ketika usia masih sesungguhnya berbuat dan berjasa tetapi dipotong di tengah jalan (po’i). Dalam pandangan seperti ini orang melihat kematian sebagai akibat dari ulah manusia. Entah itu ulah pribadi atau ulah kelompok. Orang lalu mencari-cari sebab musababnya. Ada yang mengaitkan dengan kelakuan buruk pribadi yang mengalami kematian. Ada yang mengaitkan kematian dengan kelalaian keluarga besar dalam pelaksanaan kewajiban adat kepada leluhur.

Beberapa kematian yang dianggap sebagai kematian tidak wajar.  Jatuh dari pohon, jatuh dari kendaraan bermotor, hanyut di sungai dan masih sejumlah kecelakaan yang membawa kematian ditafsirkan sebagai mati tak wajar. Ini adalah mata meta (mati segar) atau mata poi (mati separuh jalan hidup). Dalam tradisi Bajawa disebut mata golo (mati tak wajar). Menghadapi mata golo, mata meta atau mata poi, orang Bajawa mempunyai upacara tradisional sendiri. Jenazah tidak diperkenankan masuk dalam rumah. Jenazah ditempatkan di muka rumah dan dibaringkan diatas batang pisang yang dibuat seperti tenda.  Pada pagi hari sebelum jenazah dimakamkan ada upacara adat. Upacara adat ini tujuannya untuk menolak terulangnya bala bagi keluarga besar. Sekitar 10 orang laki-laki lengkap berpakaian adat mengelilingi jenazah menari sambil mengucapkan kata-kata doa dan permohonan. Suasana sakral  ini terasa membangunkan bulu kuduk orang yang menyaksikannya. Jenazah dimakamkan tidak dipemakaman umum. Makamnya berada jauh dari jalan umum. Makamnya biasa berada di tempat sepi melalui jalan setapak. Ini yang membuat setiap orang yang melalui tempat ini merasa ketakutan.

Dalam tradisi Nagekeo kematian tak wajar  jatuh pohon pada masa lalu diperlakukan khusus. Jenazah dibawah menggunakan bambu sebagai pikulan. Jenazah diikat digantungkapan pada kayu pikulan. Ketika tiba di makam kedua orang pemikul jenazah berada pada posisi kaki dan kepala (timur dan barat). Ketika posisi jenazah tergantung di tengah lubang makam, setelah diucapkan doa-doa penolak bala, tali dipetas dengan golok dan jenazah jatuh kedalam liang lahat lalu dikuburkan. Salah seorang juru bicara  sambil mengucapkan kata-kata berisi harapan  agar semua kesulitan yang tidak diinginkan ini tidak terulang lagi. Mese nee dera wa nee ae.. (tenggelam bersama terbenamnya matahari dan masuk dalam kedalaman air laut). Pemakaman selalu dilakukan pada senja hari menjelang matahari terbenam di kaki langit. Jenazah selalu dimakamkan di sebelah barat kampung  pada posisi mata hari terbenam dengan demikian bala ditolak dan hilang bersama sinar surya yang tenggelam ke dasar laut.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to MATA META DI NAGEKEO DAN MATA GOLO DI BAJAWA

  1. Pingback: TETA LOKO TRADISI MENGENANG MUSIBAH | N A G E K E O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s