LAGU DAERAH NAGEKEO KHAZANAH BUDAYA YANG TERABAIKAN

Bicara tentang  nyanyian atau lagu  daerah Nagekeo, harus diakui Nagekeo seperti tidak memiliki peta budaya sendiri. Nagekeo seperti ruang kosong tempat lalu lalang tanpa penghuni. Kendaraan umum di hampir semua wilayah propinsi NTT selalu padat penumpang. Yang menonjol dan merupakan ciri dari kehadiran kendaraan umum adalah bunyi musik dengan suara keras. Dalam dentuman bas  berat dan keras mendebarkan jantung serta  lengkingan nada tinggi yang terkadang  memekakkan telinga, orang NTT sepertinya menikmatinya tanpa keberatan. Di tengah keributan itu semua penumpang terus bercanda dan cerita dengan suara keras mengimbangi volume musik dari kendaraan.

Dari ujung Timur sampai Barat pulau Flores orang mengenal lagu daerah Larantuka, Lagu Maumere, lagu Lio , Lagu Bajawa dan Lagu Manggarai. Yang menjadi pertanyaan dimana peta lagu daerah Nagekeo.  Ketika Nagekeo masih bergabung dalam Ngada, tidak ada kebutuhan Nagekeo menonjolkan diri dengan ciri Nagekeo sendiri. Lagu atau musik daerah bersumber dari ekspresi hidup daerah dalam lagu. Apakah orang Nagekeo begitu mati rasa, sehingga tak pernah ada kesempatan meluapkan rasa dalam nada? Sumber Lagu Nagekeo sesungguhnya ada. Lagu-lagu sederhana ketika orang memikul babi (bhei wawi), wangga kaju saka peo, misalnya.  Di  wilayah selatan ada lagu sederhana ketika orang beramai-ramai  menarik perahu (lambo atau sope mere).  Anak-anak pantai mempunyai ekspresi lagu. Kami sangat suka menantang ombak besar. Suka cita anak pantai adalah berenang dan yang peling menggembirakan dan dieskpresikan adalah ketika kami ingin agar ombak besar tiba. Kami meminta sambil bernyanyi lagu Mere-Mere Mbata.  Pada saat ombak bergulung-gulung dan akan memecah ke bibir pantai kami segera menyuruk di balik gulungan ombak.  Sumber lagu daerah yang paling utama adalah dari lagu-lagu tandak.

Sepengetahuan saya,  lagu daerah sudah lama diangkat di kawasan Nagekeo. Almarhum  Petrus Wani SVD, sebagai seorang imam dan ahli musik liturgi, lagu-lagu daerah digarap menjadi aransemen musik liturgi. Seperti lagu misa Panca Windu yang menghidupkan lagu daerah Bengu Rele Kaju dari lagu rakyat Bajawa oleh Martinus Runi, Petrus Wani mengawali karyanya dengan lagu misa Mawasura. Mawasura adalah tempat orang tuanya berkebun di salah satu lembah di Lere, Kecamatan Mauponggo. Lagu Mawasura bersumber pada lagu tandak dan salah satu lagu rakyat yang diaransemen ulang adalah lagu Modhe-Modhe. Di Kecamatan Keo Tengah Bartholomeus Soo, seorang pensiunan guru di Mauromba termasuk produktif mencipta lagu-lagu untuk keperluan ibadah.

Nagekeo dalam peta lagu pop daerah seperti tak punya jejak. Orang Nagekeo seperti masih terlalu sibuk dengan berkebun dan beternak.  Kalau kita lihat kesibukan kota di wilayah Nagekeo, mungkin hanya dua tempat sangat menonjol. Mbay  sebagai ibukota kabupaten sama sekali  tidak menunjukkan riak kehidupan kota. Kota hanya disesaki oleh pegawai negeri sipil dan keluarganya. Mbay  yang panas dan gerah itu dengan jalan kota yang sangat terbatas tidak menggambarkan sebuah dinamika besar dengan kehausan akan sebuah kemajuan. Yang ada hanya sepi. Kreativitas seperti mati. Boawae nampak lebih hidup daripada Mbay karena sudah sejak lama Boawae menjadi kota pelajarnya kabupaten Ngada . Disana ada  SGB/SGA (Sekolah Guru Bawah/Atas) dan Sekolah Pertanian (SPMA) di sana juga ada SMP dan beberapa Sekolah Dasar.

Bicara tentang musik atau lagu daerah maka orang bicara tentang seni.  Seni adalah eksresi jiwa dan juga kreativitas itu sendiri.  Lalu kalau seni musik daerah Nagekeo tidak terangkat ke permukaan, maka yang dipertanyakan dimanakan kreativitas orang Nagekeo. Sampai kapan Nagekeo muncul dengan ciri budaya musik dan tarinya? Kita semua berharap bahwa kelak akan muncul putera dan puteri Nagekeo  menjawabi tantangan ini. Bila ada yang menjawabinya, maka kendaraan umum di Nagekeo akan dimeriahkan dengan ciri lagu Nagekeo yang mungkin mengingatkan kita semua akan Gore Ine Oe….yang semkin langkah di dengar.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to LAGU DAERAH NAGEKEO KHAZANAH BUDAYA YANG TERABAIKAN

  1. alfons no says:

    poa bapa…jao sementara nggae lagu-lagu natal berbahasa daerah nagekeo dan bajawa, sebagai persiapan natal bersama Kerukunan Keluarga Ine Ebu di Merauke, belum dapat juga sampai sekarang….ngara nee, tolong qrimkan….modo…

  2. atanagekeo says:

    poa Alfons, saya senang engkau selalu mengunjungi blog tanagekeo.wordpress.com. Saya menjadi lebih semangat untuk menulis tantang adat dan budaya nua oda kita.
    Mengenai lagu natal dalam bahasa daerah saya sendiri tidak punya tetapi saya kan coba hubungi pak Barth Soo di Mauromba atau tanya teman lain. Modo, dhei ru’a, tabe pawe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s